Aceh Jaya – Alam pegunungan Sarah Raya yang asri, pada sebuah hari yang dibasuh rintik hujan dan deru air terjun, menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang menggetarkan jiwa. Bukan sekadar rekreasi biasa, namun sebuah momentum konsolidasi emosional yang mendalam dari Keluarga Besar Tim Tangguh SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana) SMP Darun Nizham (25-04-2026). Di balik riak air yang jatuh dari ketinggian tujuh tingkat, terukir sebuah kisah tentang dedikasi, perpisahan yang menyesakkan dada, dan semangat yang tak kunjung padam meski raga telah memasuki masa purna tugas.
Acara unik bertema alam ini digelar sebagai bentuk penghormatan setinggi-tingginya kepada tiga sosok pilar pendidikan di SMP Darun Nizham: Ibu Dra. Zulmaidar (Purna Tugas 1 September 2025), Bapak Sulaiman, S.Pd. (Purna Tugas 1 April 2026), dan Ibu Farida, S.Pd. (Purna Tugas 1 Mei 2026).
Perjalanan Spiritual Menuju Kaki Langit
Perjalanan menuju Air Terjun Sarah Raya bukanlah jalur yang mudah, namun penuh kesan mendalam. Rombongan yang terdiri dari seluruh dewan guru, keluarga, perwakilan OSIS, hingga para atlet tangguh SANTANA memulai perjalanan dengan mobil pribadi. Namun, tantangan medan membuat mereka harus berpindah ke mobil L-300 pick-up milik salah satu wali santri yang dengan setia mengantar mereka langsung hingga ke kaki air terjun.
Di atas bak terbuka, canda tawa dan diskusi ringan mengalir, seolah menyatukan frekuensi antara generasi muda dan para senior sebelum mereka mencapai titik puncak emosional di lokasi tujuan.
Air Mata Sang Doktor: “Seperti Terbelah Empedu”
Suasana berubah menjadi sangat haru saat Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., Kepala Sekolah yang juga merupakan Kandidat Doktor Pendidikan Pascasarjana UIN Ar-Raniry, berbicara untuk memberikan kata sambutan. Di hadapan gemuruh air terjun, sosok pemimpin yang dikenal tegar ini tak kuasa membendung air mata. Suaranya bergetar, butiran bening jatuh membasahi pipinya.
“Saya berada di detik ini hari ini dengan perasaan yang tak menentu. Kagum, haru, sekaligus sedih yang luar biasa. Para guru yang purna tugas ini bukan sekadar mitra kerja, mereka adalah orang tua kedua bagi saya. Mereka adalah bagian penting yang merintis SANTANA dengan penuh suka dan duka,” ujar Ridwan sambil sesekali menyeka air mata.
Bagi Ridwan, kehilangan mereka dalam struktur kedinasan bagaikan “perasaan yang terbelah empedu”. Bukan karena ia lemah, namun karena loyalitas dan etos kerja yang ditunjukkan Ibu Zulmaidar, Bapak Sulaiman, dan Ibu Farida selama ini berada jauh di atas ekspektasi. Mereka adalah garda terdepan dalam setiap simulasi kebencanaan, diplomasi persahabatan lintas sekolah, hingga menyukseskan berbagai turnamen bergengsi.
Sosok Sulaiman: Sang Pelatih yang Tak Pernah “Pensiun”
Keunikan acara ini semakin terasa saat menyorot sosok Bapak Sulaiman, S.Pd. Meski secara administratif beliau telah purna tugas sejak 1 April 2026, semangatnya tak luntur satu persen pun. Sebagai pelatih tim atlet SANTANA, beliau tetap hadir, berdiri tegak di antara para siswa, memberikan instruksi dengan penuh wibawa.
“Hati saya masih di sini, bersama anak-anak. Purna tugas hanyalah status di atas kertas, tapi pengabdian adalah urusan hati,” ungkap Bapak Sulaiman dengan mata berkaca-kaca melihat kekompakan dewan guru dan tim atletnya.
Kepala Sekolah secara khusus memberikan apresiasi tinggi kepada Pak Sulaiman yang masih berkomitmen membimbing tim untuk menghadapi turnamen berikutnya. Ia adalah representasi nyata dari pejuang pendidikan yang sesungguhnya.
Kehangatan di Balik Gagalnya Menu “Ikan Kerling”
Sejatinya, pihak sekolah telah menyiapkan kejutan kuliner legendaris: Ikan Kerling (Ikan Jurung), menu mewah nan langka dari pedalaman sungai Teunom Aceh Jaya. Ridwan mengaku telah memesan 10 kg ikan tersebut. Namun, karena kondisi air sungai yang keruh akibat musim banjir, nelayan lokal hanya berhasil menangkap 3 ekor.
Tanpa mengurangi rasa hormat, hidangan pun dialihkan ke menu Ayam Kampung, Bebek Sawah, dan yang paling unik: Udang Aceh Sambal Ganja (istilah lokal untuk sambal khas Aceh yang sangat lezat). Istimewanya, udang tersebut merupakan hasil tangkapan tangan Bapak Sulaiman sendiri, seolah menjadi kado perpisahan yang gurih bagi rekan-rekan sejawatnya.
Urusan dapur dikomandoi langsung oleh Ibu Ukhti Fajriani, S.Pd., warga asli Desa Sarah Raya yang memastikan setiap bumbu meresap sempurna. Ridwan berjanji, momen “Pesta Ikan Kerling” akan segera digelar kembali di sekolah sebagai acara perpisahan resmi saat stok ikan mencukupi.
Kehadiran Para Sepuh dan Doa di Alam Terbuka
Acara ini kian sakral dengan hadirnya dua tokoh agama kharismatik, yakni Imam Masjid Desa Tanoh Anoe Teunom, Tgk. Rajudin, dan Imam Masjid Desa Lueng Gayo Teunom, Tgk. Ismail, S.Pd. Di tengah alam terbuka, doa-doa dilangitkan, memohon keberkahan bagi mereka yang telah purna tugas dan kekuatan bagi mereka yang melanjutkan perjuangan.
Melihat kehadiran para tetua ini, Muhammad Nasir, S.Pd. (Manajer Tim) dan Tgk. Jhon Agusni (Pembina Santri) mengaku sangat tersentuh. “Kami kehilangan mitra sekaligus orang tua yang bijak. Mereka adalah kompas kami saat menghadapi situasi sulit di lapangan,” tutur Muhammad Nasir.
Hujan, Bak Pick-Up, dan Semangat yang Tak Luntur
Puncak petualangan terjadi saat rombongan hendak pulang. Langit Sarah Raya tiba-tiba menumpahkan hujan deras. Namun, alih-alih mengeluh, Tim Tangguh SANTANA menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya. Para guru, staf, dan siswa berlindung di balik hamparan tikar di atas bak mobil pick-up.
Di bawah guyuran hujan dan guncangan mobil di jalanan berbatu, mereka justru menikmati sebagai kesan tak terlupakan. Tak ada raut menyerah. “Semangat Tim SANTANA tak luntur diguyur hujan, tak lekang di terik mentari,” seru Ridwan disambut tawa haru dewan guru.
Pesan dari Sarah Raya
Perpisahan dengan Ibu Dra. Zulmaidar, Bapak Sulaiman, dan Ibu Farida bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan transformasi perjuangan. Dari tujuh tingkat Air Terjun Sarah Raya, Tim SANTANA belajar bahwa setiap tetesan pengabdian akan mengalir menjadi sungai kebaikan yang tak berujung.
Tinta emas telah ditorehkan oleh ketiga pejuang pendidikan ini. Meski mereka kini kembali ke tengah keluarga, warisan nilai disiplin, ketangguhan bencana, dan rasa kekeluargaan yang mereka tanamkan akan tetap hidup di dalam dada setiap anggota Tim SANTANA SMP Darun Nizham.
Selamat menikmati masa purna tugas, Sang Guru. Terima kasih atas setiap jengkal keringat dan air mata yang telah dikonversi menjadi ilmu yang bermanfaat. Jejak Bapak Ibu Guru di sekolah, dan di hati kami, takkan pernah terhapus waktu.