Aceh Jaya – Ada momen di mana olahraga bukan lagi sekadar pertandingan fisik, melainkan sebuah simfoni tentang ketangguhan mental, penghormatan kepada guru (coach), dan keajaiban yang sulit dinalar akal sehat. Itulah yang terjadi pada turnamen bola voli tingkat SMP se-Kecamatan Teunom dan Pasie Raya yang baru saja usai di lapangan MAN 1 Aceh Jaya 29 April 2026.
Tim Putri SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana) dari SMP Darun Nizham tidak hanya sekadar membawa pulang trofi juara pertama, mengungguli SMP Negeri 2 Teunom di posisi kedua dan SMP Negeri 3 Teunom di posisi ketiga. Mereka membawa pulang sebuah legenda baru: Kisah servis “nirmala” Nurhafijah dan perjalanan spiritual yang menguras air mata di kaki Air Terjun Sarah Raya.
Rekor Servis dari Tangan Kidal Nurhafijah
Lapangan MAN 1 Aceh Jaya menjadi saksi sejarah yang mungkin akan diperbincangkan selama puluhan tahun ke depan. Di tengah gemuruh penonton, seorang siswi bernama Nurhafijah menciptakan fenomena yang belum pernah tercatat dalam sejarah turnamen lokal. Ia melakukan servis dari poin pertama hingga mencapai angka kemenangan mutlak, poin ke-25, tanpa pernah sekalipun berpindah bola.
Nurhafijah, dengan tangan kidalnya yang legendaris, mengirimkan bola-bola tinggi, tajam, dan memiliki lengkungan yang tidak seimbang. Lawan dibuat kelimpungan; passing mereka pecah, mental mereka runtuh di hadapan “bola kiriman langit” tersebut.

“Saya sendiri terkejut. Kekuatan tangan kidal saya terasa dahsyat hari ini,” ungkap Nurhafijah dengan rendah hati usai laga. Sang pelatih, Bapak Sulaiman, S.Pd., yang berdiri di pinggir lapangan, tak henti-hentinya bersorak gembira. Ia terus memberikan instruksi agar tim menjaga fokus dan pengendalian bola, memastikan momentum emas itu tidak terputus. Kemenangan ini bukan hanya soal teknis, tapi soal aura juara yang sudah menyelimuti tim sejak awal.
Ritual “Mencari Berkah” dan Air Mata Sang Kandidat Doktor
Di balik kesuksesan yang tampak instan di lapangan, ada persiapan unik yang sangat relevan untuk dipelajari generasi milenial saat ini: Adab di atas Ilmu. Sebelum turnamen dimulai, Tim SANTANA menjalin konsolidasi emosional dengan keluarga besar sekolah, terutama para guru yang telah memasuki masa purna tugas.
Mereka berkumpul bareng bersilaturrahmi dengan Ibu Dra. Zulmaidar (Purna tugas 1 September 2025), Bapak Sulaiman, S.Pd. (Purna tugas 1 April 2026), dan Ibu Farida, S.Pd. (Purna tugas 1 Mei 2026). Di mata Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., Kepala Sekolah yang juga merupakan Kandidat Doktor Pendidikan Pascasarjana UIN Ar-Raniry, para guru ini adalah pilar perintis SANTANA yang telah melalui suka duka yang mendalam.
“Melepas mereka rasanya seperti hati yang terbelah empedu,” ujar Ridwan dengan air mata yang tak sanggup dibendung. Air mata itu bukan tanda lemah, melainkan bentuk loyalitas dan etos kerja yang melampaui ekspektasi. Para guru purna tugas ini dianggap sebagai orang tua kedua yang telah mengawal berbagai agenda penting, mulai dari simulasi bencana hingga turnamen antar-sekolah.
Ekspedisi Sarah Raya: Ikan Jurung yang Langka dan Sambal Ganja
Persiapan tim dilakukan dengan cara yang sangat “alamiah”. Mereka melakukan studi banding bertema alam ke Air Terjun Sarah Raya. Perjalanannya pun ikonik; menggunakan mobil pribadi hingga harus menyambung dengan mobil L 300 pickup milik wali santri untuk mencapai titik kaki air terjun.
Kehadiran sosok sepuh seperti Imam Mesjid Desa Tanoh Anoe, Tgk. Rajudin, dan Imam Mesjid Desa Lueng Gayo, Tgk. Ismail, S.Pd., menambah kekhusyukan acara. Di sana, sebuah rencana besar hampir gagal namun berubah menjadi kenangan manis. Kepala sekolah awalnya memesan 10 kg Ikan Kerling (Ikan Jurung)—kuliner legendaris Aceh yang sangat langka. Namun karena sungai keruh akibat banjir, hanya 3 ekor yang tertangkap.

Menu pun dialihkan ke Ayam Kampung Dimasak oleh juru masak khusus, Ibunda Ukhti Fajriani, S.Pd., Bebek Sawah oleh Ibu Dra. Zulaidar dan Burung Punai oleh Nyonya Sulaiman. Namun, ada satu menu yang menjadi primadona: Udang Aceh Sambal Ganja. Uniknya, udang ini adalah hasil tangkapan tangan Bapak Sulaiman sendiri. Â hidangan ini dinikmati bersama di bawah naungan pohon-pohon besar, menciptakan ikatan batin yang tak terputus antara guru, murid, dan alam.
“Atap Tikar” di Balik Pickup: Simbol Ketangguhan Milenial
Kesan yang paling membekas bagi para atlet dan tim OSIS adalah saat perjalanan pulang. Hujan deras mengguyur bumi Pasie Raya. Tanpa mengeluh, Tim Tangguh SANTANA berlindung di balik hamparan tikar di bak terbuka mobil pickup. Mereka tertawa di bawah guyuran hujan, saling menjaga agar tidak basah kuyup, menunjukkan bahwa semangat mereka tak luntur oleh air dan tak lekang oleh panas.
Muhammad Nasir, S.Pd. (Manajer Tim) dan Tgk. Jhon Agusni (Pembina Santri) mengaku sangat haru. Mereka merasa sangat kehilangan sosok Bapak Sulaiman dan rekan-rekan purna tugas lainnya yang tetap berdiri tegak membimbing tim meski sudah pensiun. Dedikasi Bapak Sulaiman yang masih melatih meski sudah purna tugas per 1 April adalah teladan nyata tentang pengabdian tanpa batas.
Inspirasi untuk Masa Depan
Kemenangan Tim Putri SANTANA di turnamen voli kali ini adalah bukti bahwa kesuksesan bukan hanya soal latihan fisik yang keras, tapi soal bagaimana kita menghargai sejarah dan orang-orang yang berjasa di dalamnya. Nurhafijah dengan servis 25 poinnya adalah simbol keajaiban, namun “Atap Tikar” dan “Air Mata Sarah Raya” adalah simbol karakter.
Bagi generasi milenial, kisah ini adalah pengingat: seberapa jauh pun kamu melompat (servis), jangan pernah lupa untuk mendarat dan mencium tangan guru mereka yang telah membangun landasannya.
Selamat untuk Tim SANTANA SMP Darun Nizham! Juara sejati di dalam dan di luar lapangan.