Dunia literasi tidak hanya tentang deretan kata di atas kertas, tetapi tentang bagaimana ide bertransformasi menjadi aksi nyata yang melindungi sesama. Tepat pada peringatan Hari Buku Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 April, sebuah torehan sejarah emas lahir dari rahim SMP Darun Nizham. Di tengah riuh rendah perayaan literasi global, sekolah ini memberikan kado terindah bagi dunia pendidikan Indonesia: Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kemenkumham RI untuk inovasi SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana).
Prestasi ini bukan sekadar lembaran formalitas hukum, melainkan simbol bahwa sekolah yang berada di “lapangan hidup” memiliki hak yang sama untuk berprestasi, berinovasi, dan berpartisipasi di level nasional.
Inovasi SANTANA: Literasi Bencana yang Mendunia
Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., yang juga merupakan Kandidat Doktor Pendidikan Pascasarjana UIN Ar-Raniry, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Baginya, HKI ini adalah pengakuan atas kerja keras kolektif antara guru dan santri.
“Hari ini menjadi simbol bagi kami bahwa setiap sekolah, dari sudut mana pun, berhak untuk bermimpi besar. SANTANA adalah wujud literasi nyata. Para santri tidak hanya membaca teori tentang bencana, mereka mempraktikkannya, mengaturnya, dan kini inovasi itu tercatat resmi di Kemenkumham RI,” ujar Ridwan dengan mata berkaca-kaca.
Inovasi SANTANA mencakup berbagai aspek, mulai dari simulasi kebencanaan yang sistematis, pembangunan mental tangguh bagi santri, hingga program persahabatan lintas sekolah. Tim ini telah menjadi magnet kekaguman di berbagai ajang, membuktikan bahwa pendidikan karakter dan kesiapsiagaan bencana bisa berjalan beriringan dengan prestasi akademik.

Dedikasi Tanpa Batas: Sosok Sulaiman, S.Pd.
Keunikan perayaan kali ini juga diwarnai oleh kisah pengabdian yang menyentuh sanubari. Sulaiman, S.Pd., sang pelatih bertangan dingin, menunjukkan arti sejati dari loyalitas. Meski secara resmi telah memasuki masa purna tugas per 1 April lalu, panggilannya sebagai pendidik tak pernah padam. Ia tetap setia di lapangan, melatih, membimbing, dan menemani tim atlet SANTANA bertanding di berbagai turnamen.
“Saya masih merasa terpanggil. Tim ini adalah keluarga. Melihat mereka semangat di lapangan adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan status pensiun,” ungkap Sulaiman singkat.
Usai pertandingan yang melelahkan namun membanggakan, kekompakan tim ini dirayakan dengan cara yang sangat lokal dan penuh kehangatan. Mereka berkumpul di salah satu resto tersohor di Kuala Batee, menikmati sajian Mie Aceh Raja Udang yang melegenda. Di sana, tawa pecah, lelah luruh, dan ikatan emosional antara guru dan murid semakin menguat.
Perpisahan di Kaki Gunung: Ikan Kerling dan Kenangan Sarah Raya
Namun, di balik kegembiraan HKI dan kemenangan turnamen, ada aroma perpisahan yang manis namun getir. Pihak sekolah telah menyiapkan sebuah agenda istimewa sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi para pejuang pendidikan yang purna tugas.
Secara khusus, Kepala Sekolah menyiapkan acara perpisahan bertema alam di kawasan Air Terjun Sarah Raya. Bukan sembarang perpisahan, acara ini dirancang dengan sangat detail untuk menghormati Ibu Farida, S.Pd., sosok yang selama ini dikenal sebagai “Ibu Kedua” bagi para santri dan guru di SMP Darun Nizham.

Hidangan yang disajikan pun tidak main-main: Ikan Kerling (Ikan Jurung). Kuliner legendaris yang kini sulit didapatkan ini sengaja diburu dan dimasak oleh juru masak khusus dari daerah Sarah Raya demi memberikan penghormatan tertinggi kepada Ibu Farida. Ikan ini melambangkan ketangguhan dan nilai tinggi, persis seperti dedikasi yang telah Ibu Farida berikan selama puluhan tahun.
Muhammad Nasir, S.Pd., selaku Manajer Tim, dan Tgk. Jhon Agusni, tim pembina santri, mengaku sangat kehilangan. “Mereka bukan sekadar mitra kerja, tapi orang tua kedua yang sangat bijak. Kehilangan mereka di sekolah adalah kehilangan separuh jiwa perjuangan kami,” tutur Muhammad Nasir.
Estafet Perjuangan: Menuju Masa Depan
Penerimaan HKI SANTANA di Hari Buku Sedunia ini menjadi pengingat bahwa inovasi tidak boleh berhenti pada seremoni. Ridwan menekankan bahwa semangat emansipasi santri dalam tim SANTANA adalah modal utama untuk membangun generasi Aceh yang lebih tangguh di masa depan.
“Inovasi ini adalah warisan. Dan perjuangan guru-guru kita yang purna tugas adalah fondasi. Kami akan terus berlari, membawa nama SMP Darun Nizham sebagai pionir sekolah aman bencana yang diakui negara,” pungkas sang Kandidat Doktor tersebut.
Hari ini, di ujung barat Indonesia, sebuah sekolah telah membuktikan bahwa literasi bukan hanya soal membaca buku, tapi soal menuliskan sejarah baru dengan tinta pengabdian dan inovasi yang tak lekang oleh waktu.