Teunom – Suasana haru biru menyelimuti keluarga besar SMP Darun Nizham. Di tengah euforia prestasi gemilang Tim SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana) yang baru saja menorehkan tinta emas di ajang kompetisi bergengsi, sekolah ini juga harus melepas dua sosok pilar pendidikannya yang memasuki masa purna tugas. Sebuah perpaduan antara selebrasi kemenangan dan perpisahan yang menyentuh kalbu (21-04-2026).
Kartini Masa Kini di Lapangan Tangguh
Bertepatan dengan momentum Hari Kartini, Tim SANTANA SMP Darun Nizham tampil memukau di hadapan ribuan pasang mata. Bukan sekadar simulasi kebencanaan, para santriwati ini menunjukkan ketangkasan, kecepatan, dan keberanian yang luar biasa. Berlenggang dengan seragam kebanggaan, mereka membuktikan bahwa emansipasi bukan sekadar jargon, melainkan aksi nyata di lapangan.
Sorak-sorai penonton pecah saat para santriwati berkompetisi dengan presisi tinggi. Bagi mereka, Hari Kartini adalah simbol bahwa setiap wanita berhak berprestasi, berpartisipasi, dan berdiri di garda terdepan dalam kegiatan publik.
Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., yang juga merupakan Kandidat Doktor Pendidikan Pascasarjana UIN Ar-Raniry, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. “Melihat partisipasi aktif para santriwati ini adalah bukti nyata dari pendidikan yang membebaskan. Mereka tidak hanya belajar teori, tapi menjadi bagian dari solusi generasi emas masa depan. Ini adalah kado terindah di Hari Kartini,” ujarnya dengan nada bergetar.
Dedikasi Tanpa Batas: Sulaiman, S.Pd.
Keberhasilan Tim SANTANA tak lepas dari tangan dingin Sulaiman, S.Pd. Meski secara resmi telah memasuki masa purna tugas per 1 April lalu, jiwa sang pejuang pendidikan ini tak pernah surut. Beliau tetap hadir di lapangan, membimbing, memotivasi, dan melatih para santri hingga titik darah penghabisan kompetisi.
“Saya merasa terpanggil. Tim ini sudah seperti anak kandung saya sendiri. Melihat mereka berlaga dengan semangat juang tinggi adalah kepuasan yang tidak bisa dibayar dengan apa pun,” ungkap Sulaiman penuh haru usai pertandingan. Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras tim dan pelatih, seluruh anggota dewan guru dan atlet merayakan kemenangan tersebut dengan menyantap hidangan legendaris Mie Aceh Raja Udang di salah satu resto ternama di Kuala Batee.
Perpisahan di Sarah Raya: Menghormati Ibu Kedua
Jika Sulaiman adalah sosok ayah di lapangan, maka Ibu Farida, S.Pd. adalah sosok “Ibu Kedua” bagi seluruh warga sekolah. Menandai masa purna tugasnya, pihak sekolah telah menyiapkan sebuah prosesi perpisahan yang sangat istimewa dan bernuansa alam.
Kepala Sekolah merancang acara khusus bertema “Alam Pegunungan” di kawasan Air Terjun Sarah Raya. Tak tanggung-tanggung, hidangan istimewa berupa Ikan Kerling (Ikan Jurung)—kuliner legendaris yang kini mulai langka—disajikan sebagai menu utama. Juru masak khusus didatangkan langsung dari daerah tersebut untuk memastikan cita rasa autentik demi menghormati dedikasi Ibu Farida.
Muhammad Nasir, S.Pd. selaku Manajer Tim dan Tgk. Jhon Agusni dari tim pembina santri, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. “Kami kehilangan mitra kerja sekaligus orang tua yang sangat bijak. Ibu Farida dan Pak Sulaiman adalah teladan bagaimana menjadi pendidik yang bekerja dengan hati,” kata Muhammad Nasir.
Warisan yang Terus Mengalir
Acara purna tugas ini bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan estafet perjuangan. Semangat yang ditinggalkan oleh Ibu Farida dan Pak Sulaiman kini berpindah ke pundak generasi muda Darun Nizham.
Tim SANTANA yang tangguh, santriwati yang berani di Hari Kartini, dan kekompakan dewan guru adalah warisan nyata dari para pejuang pendidikan ini. Air mata haru yang menetes di hari ini adalah benih yang akan menumbuhkan inovasi dan prestasi baru di masa depan.
Selamat memasuki masa purna tugas, Sang Pejuang Pendidikan. Jasa dan dedikasimu akan selalu menggema di koridor-koridor SMP Darun Nizham.