Aceh Jaya – Suasana di SMP Darun Nizham mendadak diselimuti keheningan yang menyesakkan dada, namun penuh dengan kehangatan cinta. Di tengah tumpukan berkas Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) program SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana) yang baru saja rampung, terselip sebuah kisah yang akan dikenang selamanya oleh siapa pun yang mendengarnya. Ini bukan sekadar berita tentang tertib administrasi, melainkan tentang ketulusan yang melampaui logika dunia kerja.
Perayaan sederhana di Kuala Teunom menjadi kisah awal bermula ketika Wakil Kepala Bidang Humas, Farida, S.Pd., mengajak seluruh tim SANTANA untuk merayakan selesainya tugas besar mereka. Melepas penat dengan program ketangguhan bencana, mereka berkumpul di pesisir Kuala Teunom untuk menikmati hidangan khas Mie Raja Udang. Tawa pecah, ketegangan mereda, dan kebersamaan terasa begitu erat. Namun, di balik keceriaan itu, terselip rasa haru karena waktu terus berjalan menuju sebuah akhir yang tak terelakkan.
Kejutan “Butiran Garam” yang menggetarkan hati menjadi puncak emosi terjadi keesokan harinya. Di saat semua orang mengira urusan keuangan telah usai, muncul sebuah kejutan yang tak disangka-sangka. Ternyata, masih ada sisa anggaran dalam jumlah yang sangat kecil. Alih-alih menyimpannya atau mengabaikannya, Farida memilih langkah yang unik dan sarat makna filosofis: ia membelikan garam untuk dibagikan kepada seluruh anggota tim.
“Saya ingin pergi dengan tangan yang benar-benar bersih. Tidak boleh ada sisa uang sepeser pun di tangan saya, bukan karena tekanan siapa pun, tapi karena keikhlasan dan rasa tanggung jawab saya kepada kepercayaan teman-teman,” ucap Farida dengan suara bergetar.
Bagi tim, pemberian garam ini bukan soal nilai nominalnya, melainkan simbol bahwa beliau ingin menjadi “garam dunia”—pemberi rasa, pengawet kebaikan, dan sosok yang meski tak terlihat, namun dampaknya terasa nyata dalam setiap denyut nadi kehidupan sekolah.
Dua “Kaki Tangan” yang akan pergi bagi kepala SMP Darun Nizham, Ridwan, S.Pd.I., M.A., M.Pd., tak mampu membendung rasa harunya. Baginya, Farida, S.Pd. (Waka Humas) dan Sulaiman, S.Pd. (Waka Kurikulum) bukan sekadar mitra kerja. Keduanya adalah sosok orang tua, guru, dan mentor yang telah membentuk fondasi mental serta spiritualnya.
Ironisnya, kedua sosok hebat ini akan memasuki masa purnatugas secara hampir bersamaan; Maret dan April 2026. “Kehilangan dua kaki tangan saya sekaligus tahun ini benar-benar membuat saya guncang,” aku Ridwan dengan mata berkaca-kaca.
Ridwan mengenang bagaimana setiap kebijakan inovatif yang ia telurkan di SMP Darun Nizham selalu melewati konfirmasi dan diskusi mendalam dengan kedua guru senior ini. Mereka adalah pembimbing administratif yang teliti, sekaligus penjaga gawang spiritual yang selalu mengingatkan akan makna pengabdian.
Pesan kebijaksanaan di ambang purnatugas sarat kearifan yang ditunjukkan oleh Farida dan Sulaiman di akhir masa jabatan mereka menjadi warna istimewa bagi sejarah sekolah. Di era di mana transparansi seringkali hanya menjadi jargon, mereka menunjukkannya melalui tindakan nyata—seperti “buku bersih” dan kejujuran atas sisa anggaran sekecil apa pun.
“Keputusan beliau membagikan garam itu membelajarkan saya tentang esensi kejujuran yang murni. Beliau membuktikan bahwa integritas tidak diukur dari angka yang besar, tapi dari hati yang tulus. fenomena etos kerja ideal ini yang diimpikan di setiap sudut rung kerja yang langka di era modern” tambah Ridwan.
Inovasi yang berlandaskan keteladanan menjadi keberhasilan program SANTANA di bawah kepemimpinan Ridwan tak lepas dari dukungan “dua pilar” ini. Inovasi yang melampaui ekspektasi lahir karena adanya rasa saling percaya yang begitu kuat. Bagi Ridwan, masa purnatugas mereka adalah kehilangan besar bagi dunia pendidikan di Aceh Jaya, namun sekaligus menjadi warisan (legacy) tentang bagaimana cara mengakhiri sebuah pengabdian dengan kepala tegak dan hati yang suci.
Kini, setiap butir garam yang diterima oleh tim SANTANA bukan hanya menjadi pelengkap masakan bulan suci ramadhan di dapur mereka, melainkan pengingat abadi bahwa di SMP Darun Nizham, pernah ada dua sosok guru yang mengajar bukan hanya dengan lisan, tapi dengan teladan hidup yang luar biasa.
Selamat menunaikan ibadah puasa dan menuju masa purnatugas dengan mulia, Ibu Farida dan Bapak Sulaiman. Terima kasih telah menjadi “garam” yang memberi rasa indah pada perjuangan kami di Darun Nizham dan menginspirasi dunia pendidikan.