Teunom – Di bawah langit Aceh Jaya yang mulai merona jelang senja, sebuah peristiwa tak biasa terjadi di lingkungan Sekolah Aman Tangguh Bencana (SANTANA). Bukan sekadar rapat rutin, namun sebuah simfoni perpisahan, tanggung jawab, dan kebersamaan yang tumpah ruah dalam laporan pertanggungjawaban (LPJ) kegiatan Temuramah Mitra Strategis (10-02-2026).
Di tengah hiruk-pikuk persiapan menyambut bulan suci Ramadan 2026, suasana di ruang pertemuan SMP Darun Nizham terasa hangat namun emosional. Fokus utama hari itu adalah sosok Farida, S.Pd., Wakil Kepala Bidang Humas yang selama ini menjadi jembatan komunikasi antara sekolah dan dunia luar. Dengan wajah yang berseri-seri, beliau berdiri di depan forum untuk memaparkan transparansi anggaran.
Transparansi di ambang purnatugas, momen ini menjadi sangat spesial karena April 2026 akan menjadi titik purnatugas bagi Ibu Farida. Bukannya menunjukkan rasa lelah, beliau justru tampil dengan energi yang luar biasa. Satu per satu poin laporan dibedah dengan sangat rinci—mulai dari sumber pemasukan, kontribusi mitra, hingga alokasi pengeluaran yang presisi sesuai rencana awal. Tak satu pun angka yang tertinggal, tak satu pun rupiah yang tak terjelaskan.
“Biasanya, penutupan buku kegiatan sering kali menyisakan catatan defisit atau kekurangan. Namun hari ini, saya sampaikan dengan penuh haru dan gembira, kita menutup buku dengan manis,” ujar Farida dengan senyum khasnya yang menenangkan.
Beliau merincikan bahwa seluruh agenda besar telah tertunaikan. Biaya tim, jamuan mewah “Kuah Beulangong Raja Teunom” untuk para mitra, hingga penyaluran paket meugang untuk menyambut Ramadan telah terlaksana dengan lancar. Kejutan terbesarnya adalah: setelah semua biaya tertutupi, anggaran masih memiliki sisa yang cukup untuk satu sesi apresiasi tim.
“Kini, kita masih bisa menikmati Mie Raja Udang di Kuala Teunom bersama-sama!” serunya, yang langsung disambut tepuk tangan riuh dan tawa bahagia dari seluruh staf.
Gerak cepat tanpa komando ribet, seolah sudah satu frekuensi, pengumuman tersebut tidak memerlukan instruksi panjang. Usai jam belajar mengajar berakhir, kekompakan tim SANTANA langsung teruji. Tanpa komando yang bertele-tele, seluruh guru dan staf segera bersiap menuju lokasi di pesisir Kuala Teunom.
Hanya satu kursi yang kosong sore itu; Sulaiman, S.Pd., sang Koordinator Lapangan yang sigap, melaporkan bahwa satu orang anggota tim terpaksa absen karena sedang menjalankan ibadah puasa sunnah. Namun, Sulaiman tetap menjalankan perannya dengan kilat. Sambil mengemudi, ia menghubungi pihak Resto Kuala Teunom untuk memastikan meja dan pesanan siap, demi efisiensi waktu agar momen kebersamaan tidak terbuang percuma.
Lebih dari sekadar hidangan mitigasi multi sektor di lokasi, suasana persaudaraan semakin kental. Selli Niuri Putri, S.Pd., yang dikenal eksis mengabadikan setiap momen sekolah, tampak sibuk dengan kameranya. Namun kali ini, matanya berkaca-kaca di balik lensa.
“Ini benar-benar mitigasi multi sektor. Nilai kebersamaan ini adalah aset yang paling mahal, jauh melampaui hidangan istimewa di depan kita,” ungkap Selli. Bagi Selli, makanan lezat seperti Mie Raja Udang bisa dibeli di mana saja, namun suasana tanpa sekat—tanpa kelompok “si A” atau “si B”—adalah barang langka di dunia kerja modern.
“Air putih pun terasa lega saat diminum karena tim ini terpaut rasa saudara. Kami bekerja ikhlas, keras, dan cerdas dalam lingkungan yang aman dan nyaman. Tidak ada tekanan, apalagi ancaman. Inilah etos kerja yang sebenarnya,” tambahnya dengan nada bangga.
Visi sang inisiator inovasi di atas ekspektasi, Ridwan, S.Pd.I., M.A., M.Pd., Kepala Sekolah sekaligus inisiator inovasi SANTANA, duduk di antara guru-gurunya dengan raut wajah syukur. Baginya, keberhasilan LPJ dan kekompakan hari itu adalah bukti bahwa kepemimpinan yang humanis akan melahirkan loyalitas yang tulus.
“Saya selalu yakin, tidak perlu seratus orang untuk mengubah dunia. Sepuluh orang saja cukup, asalkan mereka kompak dan memiliki semangat kerja yang bagus. Kita bisa melahirkan inovasi-inovasi yang jauh di atas ekspektasi,” tegas Ridwan.
Beliau menekankan bahwa kunci utama SANTANA bisa merangkul mitra-mitra strategis bukan semata-mata karena kehebatan teknis, melainkan karena budaya sekolah yang menjunjung tinggi martabat dan memberdayakan tujuh potensi dalam diri Guru Penggerak.
“Para mitra bergabung karena mereka melihat kita punya nilai. Kita saling menghargai dan saling melengkapi. Apa yang dilakukan Ibu Farida hari ini adalah standar tertinggi dari sebuah integritas jelang masa pensiun,” lanjutnya.
Akhir cerita yang manis di Kuala Teunom, siang jelang sore itu, di bawah lambaian pohon kelapa dan aroma khas laut Teunom, Mie Raja Udang menjadi saksi bisu sebuah perjalanan dedikasi. Ibu Farida telah memberikan pelajaran berharga: bahwa mengakhiri masa bakti dengan “buku yang bersih” dan hati yang gembira adalah impian setiap abdi negara.
Kegiatan SANTANA bukan lagi sekadar program kesiapsiagaan bencana, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah keluarga besar yang tangguh secara mental dan sosial. Di tengah harumnya rempah mie Aceh, tim ini kembali memperkuat janji untuk terus berinovasi, menjaga kekompakan, dan menyongsong bulan suci Ramadan dengan jiwa yang tenang serta penuh prestasi.
Hari itu, di Kuala Teunom, bukan hanya perut yang kenyang, tapi jiwa-jiwa pendidik itu pun pulang dengan semangat yang terisi penuh. Sebuah “mitigasi hati” yang sukses dilakukan sebelum tugas besar di bulan Ramadan menyapa. Red. angkasanew.com