Aceh Jaya – Angin laut berdesir lembut di pesisir Aceh Jaya, membawa aroma rempah Kuah Beulangong yang khas dan menggugah selera. Namun, di balik kepulan asap tungku dan keriuhan makan bersama, terselip sebuah narasi besar tentang kepemimpinan yang humanis, loyalitas tanpa batas, dan persiapan batin menyambut bulan suci Ramadan.
Dalam kolaborasi tim Ridwan, S. Pd. I., M. A., M. Pd., seorang kandidat doktor dari Pascasarjana UIN Ar-Raniry, SMP Darun Nizham bukan sekadar lembaga pendidikan. Sekolah ini telah bertransformasi membangun inovasi yang memadukan kecerdasan intelektual dengan ketangguhan sosial. Hari itu, sebuah momentum bersejarah tercipta pasca penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan BPBK Aceh Jaya, FK Tagana Provinsi Aceh, serta keluarga besar keturunan Raja Teunom.
Inisiatif Humanis di Balik lahirnya tim SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana) menjadi bukti betapa matangnya kesiapsiagaan sekolah ini. Namun, Ridwan menegaskan bahwa mitigasi bencana bukan hanya soal simulasi menghadapi gempa atau tsunami. “Bencana yang paling nyata adalah saat kepedulian sesama manusia mulai luntur,” ungkapnya dengan nada dalam.
Apresiasi khusus diberikan Ridwan kepada Wakil Kepala Bidang Humas, Farida, S. Pd. Ia menyebut Farida sebagai motor penggerak yang memiliki inisiatif “luar biasa humanis”. Di tangan Farida, acara formal seremonial berubah menjadi momen penuh keharuan.
Usai jamuan Kuah Beulangong, sebuah kejutan besar telah menanti. Tidak ada yang menduga bahwa di balik layar, manajemen sekolah telah menyiapkan paket “Megang” kepada keluarga Raja Teunom sebagai simbul terimakasih kami kepada keluarga pejuang. dan juga dibagi seluruh guru beserta karyawan. Paket sembako sebagai bekal berbuka puasa itu dibagikan bukan sebagai upah, melainkan sebagai simbol kasih sayang.
Senyum di balik kipas estafet kebaikan, di sudut lain, Sulaiman, S. Pd., sang koordinator lapangan, tampak masih menggenggam kipas kardus. Wajahnya yang penuh semangat meski panasnya api tungku sama sekali tidak menyiratkan kelelahan. Sebaliknya, senyum lebar merekah saat ia membantu Farida membagikan paket-paket megang tersebut.
“Kebersamaan adalah nilai yang paling besar. Melihat rekan-rekan tersenyum menyambut Ramadan adalah bayaran yang lebih dari cukup bagi lelah kami hari ini,” ujar Sulaiman sambil menyerahkan bungkusan sembako kepada rekan sejawatnya.
Keunikan acara ini kian memuncak saat seluruh elemen sekolah—mulai dari kepala sekolah, guru senior, hingga karyawan—duduk bersila bersama di atas rumput pantai. Tidak ada sekat pangkat, tidak ada kursi eksklusif, dan tidak ada perbedaan golongan. Semuanya melebur dalam satu visi: saling melengkapi.
Kemewahan yang tak dijual di Mal merupakan satu hal yang paling mengagumkan dan patut menjadi teladan bagi institusi lain: seluruh paket sembako ini tidak menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sepeser pun. Ini adalah murni buah dari sedekah ikhlas dan kemandirian finansial tim yang solid.
Ridwan, dengan mengagungkna kearifan lokal Aceh menyambut megang seorang calon doktor, memberikan pernyataan yang menyentuh sanubari: “Secara kuantitas, mungkin paket ini tidak seberapa. Namun, kualitas persaudaraan yang kita bangun adalah nilai yang istimewa. Sirup, minyak, dan gula bisa dibeli di pasar manapun, tapi semangat kebersamaan seperti ini tidak dijual di mal manapun di dunia ini.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa SMP Darun Nizham telah berhasil membangun ekosistem pendidikan yang berbasis hati. Di bawah bendera SANTANA, mereka membuktikan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tentang bunyi sirine, tetapi tentang bagaimana hati tetap “siaga” untuk berbagi kebaikan kepada sesama.
Menyucikan hati dengan mitigasi jiwa, menjelang Ramadan yang tinggal menghitung hari, momentum ini juga dijadikan ajang “mitigasi jiwa”. Ridwan mengajak seluruh stafnya untuk saling memaafkan atas segala kesalahan dan kesalahpahaman selama bertugas. “Jika ada debu kesalah pahaman yang menggangu selama melangkah di sekolah ini, mari kita bersihkan sebelum memasuki bulan Ramadan. Kita masuki bulan suci dengan hati yang lapang, agar ibadah kita tidak terhalang,” pesan Ridwan yang disambut suasana hening penuh haru.
Tim mitigasi Darun Nizham menyerukan “Bencana alam mungkin meruntuhkan bangunan, tapi hilangnya rasa peduli akan meruntuhkan kemanusiaan. Di SMP Darun Nizham, kami belajar bahwa sebelum menyelamatkan orang lain dari reruntuhan, kami harus terlebih dahulu menyelamatkan ego kami dalam dekapan persaudaraan.”
SMP Darun Nizham menuju sekolah inovatif berbasis cinta, bagi kami setiap kegiatan inovasi sekolah memberikan pelajaran berharga bagi dunia pendidikan di Aceh Jaya dan Indonesia. Bahwa sekolah yang hebat bukan hanya diukur dari megahnya gedung atau deretan piala, melainkan dari seberapa besar rasa kekeluargaan yang tumbuh di dalamnya.
Hari itu, di pesisir Aceh Jaya, aroma Kuah Beulangong mungkin perlahan hilang tertiup angin, namun kehangatan paket Megang dan pelukan persaudaraan yang mereka ciptakan akan terus membekas sebagai bekal spiritual memasuki bulan suci Ramadan. Mereka adalah SANTANA—Tangguh Bencana, Tangguh dalam Kemanusiaan hari ini dan masa depan.