ACEH JAYA – Suasana haru dan penuh kehangatan menyelimuti SMP Darun Nizham di Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya. Pada hari penutupan pembelajaran menjelang Hari Raya Idul Adha—yang dikenal masyarakat Aceh sebagai Hari Megang—sebuah momen bersejarah tercipta secara alami. Bukan lewat upacara formal yang kaku, melainkan melalui jalinan tradisi kuliner lokal yang sarat makna simbolis: Ritual santap bersama nasi ketan kuini.
Momen penuh kebersamaan ini tidak hanya mempererat kekeluargaan, tetapi juga menginspirasi lahirnya inovasi pelayanan publik ke-15 sekolah tersebut, yang diberi nama KUINI (Konseling untuk Individu Nyaman dan Islami). Inovasi ini bahkan langsung didaftarkan resmi ke aplikasi SIABANG AJAY (Sistem Inovasi dan Kelitbangan Aceh Jaya) pada Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Aceh Jaya.

Berkah Buah Kuini dan Keikhlasan Guru Seni
Awal mula terciptanya mahakarya sosial ini terasa sangat emosional. Safrina, S.Pd., seorang guru seni yang baru saja bergabung dengan keluarga besar SMP Darun Nizham, datang ke sekolah membawa keranjang berisi buah kuini yang segar. Buah-buah tersebut dipetik langsung dari pohonnya untuk dinikmati bersama di hari terakhir sekolah sebelum libur panjang hari raya.
Dengan mata berkaca-kaca menahan haru, Safrina mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam kepada rekan-rekan sejawatnya. “Segala sesuatu di dunia ini akan bernilai sangat istimewa ketika kita melakukannya dengan ikhlas, tanpa tekanan, dan penuh ketulusan,” bisiknya lirih, memicu getaran emosional di ruang guru.
Pernyataan tulus tersebut memantik aksi spontan dari para pendidik lainnya. Tanpa dikomando, seluruh elemen sekolah langsung bergerak bersatu padu, meruntuhkan sekat-sekat formalitas jabatan atau status kepegawaian.
Ibu Depi Ratnasanti, S.Pd., dengan sigap langsung bergegas menuju pasar lokal untuk mencari berbagai perlengkapan memasak yang kurang. Sementara itu, Ibu Fittri Suzanni, S.Pd.I., dengan telaten mengupas kuini yang ranum menebarkan aroma harum yang khas. Di sela-sela kegiatannya, Ibu Fittri berseloroh jeli, “Bagus sekali ya kalau kita ambil nama ‘Kuini’ ini

menjadi nama inovasi baru kita!” Selorohan cerdas ini langsung memantik ide besar bagi seluruh tim.
Sinergi Tanpa Sekat di Dapur Kak Ros
Sisi keceriaan generasi milenial ditunjukkan oleh Ibu Felia Yuhasni, S.Pd. Dengan penuh semangat, ia mengabadikan setiap sudut momen berharga tersebut melalui lensa kamera ponselnya, memastikan kebersamaan murni ini terekam dengan estetika tinggi. Di sudut lain, Ibu Ema Julita, S.E., sibuk di depan tungku, memasak kuah manisan kental untuk kemudian diaduk merata dengan potongan kuini segar.
Guna mematangkan hidangan utama, ketan dimasak langsung di dapur Kak Ros, yang juga merupakan tetangga dekat sekolah. Di dapur sederhana inilah esensi kekeluargaan yang tak ternilai harganya berbaur menjadi satu. Kepala sekolah, guru PNS, guru bakti, hingga staf tata usaha duduk bersila di lantai yang sama, menikmati manisnya kuah kuini dan gurihnya nasi ketan.
Melihat kekompakan timnya, Kepala SMPS Darun Nizham, Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., mengaku sangat terharu dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya. “Ini adalah inovasi ke-15 dari sekolah kita, sekaligus bagian dari 8 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang terus kita kembangkan. Saya sangat bangga atas ketulusan tim ini,” ujar Ridwan dengan mata berbinar bangga.
Mengenal Inovasi KUINI: Penyembuh Luka Jiwa Santri

Nama KUINI akhirnya resmi dipilih sebagai akronim dari Konseling untuk Individu Nyaman dan Islami. Di balik namanya yang manis, proposal inovasi pelayanan publik bidang pendidikan ini memuat misi kemanusiaan yang sangat mendalam untuk dunia pesantren.
Uji coba inovasi ini sebenarnya telah dimulai sejak 5 Januari 2024, disusul pelaksanaan penuh pada 5 Februari 2024, dan kini telah menjalin kerja sama formal (MoU) dengan BPKB di bidang konseling remaja.
Latar Belakang yang Menyentuh
Sebagai sekolah berbasis pesantren, SMPS Darun Nizham menjadi tempat ratusan santri usia remaja (12–15 tahun) menempa kemandirian. Namun, transisi dari pelukan hangat orang tua menuju kehidupan asrama sering memicu tekanan psikologis berat. Data internal bimbingan konseling menunjukkan fakta memprihatinkan: 42% santri baru mengalami gejala homesick (rindu rumah) tingkat akut, yang berujung pada penurunan nafsu makan, gangguan tidur, hingga sering menangis sendirian. Jika dibiarkan, kondisi rentan ini berisiko memicu gesekan sosial hingga tindakan perundungan (bullying) terselubung.
Sebagai sekolah berbasis pesantren, SMPS Darun Nizham menjadi tempat ratusan santri usia remaja (12–15 tahun) menempa kemandirian. Namun, transisi dari pelukan hangat orang tua menuju kehidupan asrama sering memicu tekanan psikologis berat. Data internal bimbingan konseling menunjukkan fakta memprihatinkan: 42% santri baru mengalami gejala homesick (rindu rumah) tingkat akut, yang berujung pada penurunan nafsu makan, gangguan tidur, hingga sering menangis sendirian. Jika dibiarkan, kondisi rentan ini berisiko memicu gesekan sosial hingga tindakan perundungan (bullying) terselubung.
Selama ini, ruang BK sering ditakuti bagai “mahkamah pengadilan” yang kaku dan memberi stigma negatif. Melalui KUINI, paradigma hukuman (punitive) itu runtuh dan digantikan oleh ruang aman (safe space) yang humanis, empatis, dan islami.
Tiga Pilar Perubahan Utama KUINI

Inovasi non-digital ini mengusung tiga pilar perubahan fundamental: Pola Asuh Terintegrasi: Menghapus dualisme aturan dengan menyatukan visi asuh antara guru sekolah umum dan para tengku/ustaz asrama selama 24 jam penuh. Konselor Sebaya (Peer Counseling): Melatih dua santri senior per kelas sebagai first responder. Santri baru bisa mencurahkan isi hati secara natural tanpa takut dihakimi dengan jaminan privasi ketat. Tazkiyatun Nafs: Menggabungkan teknik psikologi modern dengan kekuatan spiritual Islam, seperti zikir ketenangan emosi dan visualisasi kisah keteladanan sahabat Nab
Target output dalam satu tahun ajaran ini pun sangat konkret, termasuk penyediaan satu unit Ruang Konseling KUINI berbasis aromaterapi dan peredam suara, serta pelatihan bagi minimal 12 santri senior.
Kisah dari SMPS Darun Nizham ini menjadi bukti nyata bagi seluruh Indonesia, bahwa sebuah inovasi besar yang diakui daerah tidak selalu lahir dari ruang rapat yang kaku. Seringkali, inovasi paling berdampak justru lahir dari keikhlasan hati, semangkuk nasi ketan kuini di hari megang, dan rasa kekeluargaan yang tulus tanpa batas jabatan.