ACEH JAYA – Suara sirine pemadam kebakaran memecah keheningan fajar di Kecamatan Teunom. Namun, ini bukanlah tanda dari sebuah musibah kelam (Kamis, 23-07-2026). Melainkan genderang perang melawan ketidaktahuan yang ditabuh keras-keras oleh lembaga pendidikan Islam di ujung barat Indonesia.
Sebuah gebrakan luar biasa yang menembus batas-batas kurikulum konvensional sedang berlangsung di Kabupaten Aceh Jaya. Sejak tahun 2022, SANDARAN (Santri Sadar Kebakaran) Sebuah inovasi yang telah berlisensi Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Kali ini sebuah sinergi strategis yang unik, mendalam, dan penuh inspirasi telah terjalin erat antara dunia pendidikan pesantren Darun Nizham dengan Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Aceh Jaya. Kerja sama ini berhasil mencetak prestasi gemilang dalam melahirkan generasi muda yang tidak hanya tangguh secara spiritual, tetapi juga cekatan dalam menghadapi keadaan darurat.
Di balik layar gerakan revolusioner ini, berdiri sosok Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd. Beliau bukan sekadar Kepala Sekolah biasa, melainkan seorang inovator pendidikan yang saat ini sedang menempuh studi sebagai Kandidat Doktor Pendidikan Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dengan visi besarnya, Ridwan memberikan dukungan penuh dan membuka pintu selebar-lebarnya bagi program Pendidikan Kesadaran Kebakaran di lingkungan sekolah dan dayah.
Air Mata Haru di Balik Asap Simulasi
Kegiatan yang berlangsung meriah namun khidmat ini dihadiri langsung oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBK Aceh Jaya, Ismail, S.Pd., M.Pd. Berdiri di tengah-tengah ratusan santri, Ismail tidak dapat menyembunyikan rasa haru sekaligus bangganya atas komitmen luar biasa yang ditunjukkan oleh SMPS Darun Nizham.
“Saya merasa sangat terharu. Sangat langka melihat lembaga pendidikan, khususnya dayah, yang sejak tahun 2022 hingga detik ini masih sangat konsisten melaksanakan pendidikan dan simulasi pemadam kebakaran secara berkala,” ujar Ismail dengan suara bergetar penuh apresiasi.
Kehadiran Ketua Unit Damkar Teunom, Defrijal, bersama tim profesionalnya dan armada pemadam kebakaran semakin membakar semangat para santri. Mereka memberikan penyuluhan taktis mengenai anatomi api serta tata cara penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) secara benar.
Namun, momen paling magis dan menguras emosi terjadi saat prosesi tradisi leluhur Aceh dimulai. Bukan hanya peralatan pemadam yang disiapkan, sebuah unit ambulans dan para santri baru menjalani prosesi adat Peusijuek (tepung tawar). Dipimpin oleh para tokoh agama karismatik seperti Tgk. Rajudin, Tgk. Ismail, dan Tgk. Jhon Agusni, ritual ini diiringi lantunan shalawat yang mengalun syahdu.
Saat air suci dipercikkan sebagai simbol berkah dan keselamatan, air mata haru menetes dari sudut mata para santri baru, siswa, hingga dewan guru. Sebuah perpaduan spiritual yang batiniah: memohon perlindungan Allah SWT (kebatinan) sambil mengasah ikhtiar fisik melalui simulasi kebencanaan (sains keselamatan).
Melatih Jiwa Sosial yang Tangguh
Ketua Panitia yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah, Muhammad Nasir, menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya BPBK Aceh Jaya dan Unit Damkar Teunom.
“Kami berharap kerja sama ini terus berjalan konsisten. Ini bukan sekadar latihan memadamkan api fisik, tetapi juga menyalakan api kepedulian kemanusiaan di dalam dada generasi muda kita agar mereka memiliki jiwa sosial yang tangguh di masa depan,” tegas Nasir.
Senada dengan itu, Fitri Suzanni dari bidang Hubungan Masyarakat (Humas) mengungkapkan rasa takjubnya melihat antusiasme para santri. Ketika asap simulasi membubung tinggi, tidak ada rasa takut di wajah anak-anak muda ini. Mereka justru berebut untuk memegang nozel selang air dan tabung APAR dengan instruksi ketat dari petugas profesional.
Gebrakan dari bumi Teunom ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru Indonesia. Menjadi modern dan sadar mitigasi tidak berarti harus menanggalkan nilai-nilai tradisional dan spiritualitas pesantren. Melalui integrasi ilmu keselamatan modern dan tradisi peusijuek, Aceh Jaya telah membuktikan bahwa ruang-ruang kelas bisa bertransformasi menjadi laboratorium kemanusiaan yang sangat menginspirasi bangsa.