oppo_2
ACEH JAYA – Sebuah gebrakan luar biasa yang memadukan dunia pendidikan Islam tradisional dengan pelestarian alam modern sedang berlangsung di Bumi Serambi Mekkah. Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., seorang Kepala Sekolah inovatif sekaligus Kandidat Doktor Pendidikan Pascasarjana UIN Ar-Raniry, secara resmi menyatakan dukungan penuhnya terhadap Al-Hadi, pemilik Yayasan Aceh Jaya Mangrove Institute (AMI). Sinergi strategis yang terbangun sejak tahun 2022 ini tidak hanya berhasil melahirkan belasan karya intelektual yang diakui negara, tetapi juga mengantarkan sang pejuang lingkungan menembus panggung nasional sebagai salah satu kandidat terkuat penerima penghargaan tertinggi bidang lingkungan hidup di Indonesia.
Kolaborasi Strategis dan Lembaran Inovasi Berlisensi HKI
Kemitraan antara lembaga pendidikan yang dipimpin Ridwan dan AMI bukan sekadar perjanjian di atas kertas. Langkah ini merupakan bentuk nyata dari integrasi kurikulum berbasis lingkungan yang terstruktur dengan sangat matang. Melalui wadah pengembangan inovasi di Darun Nizham, kolaborasi ini telah membuahkan hasil yang sangat fantastis, yaitu 14 inovasi pembelajaran dan lingkungan yang telah resmi mendapatkan lisensi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari pemerintah.

Dari total 14 inovasi tersebut, terdapat empat program unggulan yang dinilai paling signifikan dan membawa dampak perubahan paling besar bagi karakter para santri dan siswa: TAMAT KITAB (Taman Medika Terpadu Kita Tanam Bersama): Program integrasi yang mengubah area sekolah menjadi pusat tanaman obat herbal, melatih kemandirian santri dalam merawat ekosistem lokal. SAKINAH (Santri Kreatif Inovasi Alam Hijau): Gerakan aktif yang mendorong para santri mengeksplorasi potensi alam sekitar secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem. HENING (Harmoni Ekoprint Santrin): Pemanfaatan bahan-bahan alami seperti daun dan bunga mangrove untuk menciptakan karya seni tekstil bernilai ekonomi tinggi. SIDULANG KAYU (Siswa Cerdas Daur Ulang Kayu): Program kreativitas siswa dalam mengolah limbah kayu sisa menjadi kerajinan tangan yang estetik dan fungsional.
“Karya-karya yang lahir dari kolaborasi ini sangat fantastis. Kerja sama dengan AMI benar-benar menunjang ke-14 inovasi berlisensi HKI kami di Darun Nizham,” ungkap Ridwan dengan penuh rasa bangga.
Aksi Nyata Rimbawan: Mengedukasi Generasi Penerus di Gampong Baro
Sinergi ini kembali membuktikan taringnya dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan Tahun 2026 yang mengusung tema besar “Keanekaragaman Hayati”. Pada hari Kamis, 2 April 2026, Abdul Hadi (Al-Hadi)—yang juga mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di UPTD KPH Wilayah III Aceh—menggelar sebuah aksi hijau yang monumental.

Kegiatan edukasi dan aksi penanaman 500 batang bibit mangrove dilaksanakan langsung di kawasan pesisir Desa Gampong Baro, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya. Aksi ini tidak hanya melibatkan para aktivis, tetapi juga memboyong secara langsung 20 siswa serta dewan guru dari SMP Darul Nizham, Kecamatan Teunom.
Tujuan utama dari pelibatan aktif ini adalah menanamkan rasa kepedulian yang mendalam sejak dini kepada generasi muda. Mereka diajarkan secara langsung di lapangan mengenai betapa krusialnya peran hutan mangrove sebagai benteng pertahanan pesisir, penyerap karbon, dan rumah bagi keanekaragaman hayati laut.
Dedikasi Tanpa Batas Sejak 2005 dan Panggung Kalpataru Nasional
Dukungan penuh yang mengalir dari pihak sekolah kepada Al-Hadi juga mencakup keikutsertaannya dalam Lomba Foto Hari Bakti Rimbawan Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh. Tim pengembangan inovasi Darun Nizham menegaskan bahwa Al-Hadi sangat layak menjadi juara dalam kontes tersebut.
“Beliau berkarya bukan semata-mata karena adanya kontes. Jauh sebelum perlombaan ini ada, beliau sudah konsisten dan jatuh bangun melakukan konservasi alam di Aceh Jaya sejak tahun 2005,” tegas perwakilan tim inovasi.
Konsistensi selama lebih dari dua dekade ini akhirnya membuahkan pengakuan nasional yang sangat prestisius. Al-Hadi secara resmi terpilih masuk ke dalam 3 Besar Nasional Piala Kalpataru Tahun 2026 untuk kategori Insan Peduli Lingkungan Mangrove di Kementerian Lingkungan Hidup.
Sebagai bagian dari tahapan akhir penilaian, Tim Verifikasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dijadwalkan turun langsung ke lapangan pada hari Senin dan Selasa, 18 hingga 19 Mei 2026 ini. Tim pusat akan melakukan pengecekan dan validasi menyeluruh ke desa-desa serta sekolah binaan yang selama ini menjadi pusat pergerakan konservasi Al-Hadi.

Ada 11 wilayah binaan utama di Kabupaten Aceh Jaya yang bersiap menyambut kedatangan tim kementerian, yaitu: Gampong Baro, Lhok Timon, Lhok Buya, Lhok Kruet, Meunasah Kulam, Crak Mong, Krung No, Ceunamprong, Kuala Unga, Krueng Teunom dan Kuetapang
Seruan Kolaborasi dan Harapan Juara untuk Aceh
Menghadapi momentum krusial verifikasi lapangan ini, Al-Hadi menyampaikan pesan menyentuh dan memohon kerja sama yang erat dari seluruh elemen masyarakat, khususnya para ketua kelompok dan anggota komunitas di desa-desa binaan. Kehadiran tim kementerian menjadi pembuktian nyata bahwa pergerakan pelestarian mangrove di Aceh Jaya bukanlah klaim sepihak, melainkan sebuah gerakan akar rumput yang hidup, berdampak, dan diakui secara nasional.
Kisah dari Aceh Jaya ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: ketika dunia pendidikan, birokrasi, dan komunitas lingkungan bersatu padu tanpa ego sektoral, maka inovasi yang menyelamatkan bumi bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah realitas yang menginspirasi dunia. Al-Hadi tidak hanya layak membawa pulang Piala Kalpataru, tetapi ia dan seluruh tim Darun Nizham telah memenangkan masa depan lingkungan Aceh.