Teunom – Di balik rimbunnya nyiur kelapa melambai di garis pantai yang menantang di ujung desa Kecamatan Teunom, sebuah revolusi pendidikan sedang mekar (02-02-2026). SMP Darun Nizham, sebuah sekolah yang jauh dari hiruk-pikuk kota, kini bertransformasi menjadi mercusuar inspirasi bagi dunia pendidikan nasional melalui pengukuhan inovasi SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana).
Langkah berani ini dipimpin oleh sosok visioner, Ridwan, S. Pd. I., M. A., M. Pd. Seorang kandidat doktor dari Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Di bawah komandonya, SMP Darun Nizham membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk melahirkan inovasi kelas dunia. Pada akhir pekan menjelang tradisi Meugang Ramadhan ini, sekolah tersebut mencatatkan sejarah dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) lintas sektor yang melibatkan BPBK Aceh Jaya dan FK Tagana Provinsi Aceh.
Sinergi Tiga Tahun: Bukan Sekadar Seremonial. Meski penandatanganan dilakukan akhir pekan nanti, kerja nyata telah mengakar selama tiga tahun terakhir. SMP Darun Nizham secara konsisten mengadakan pelatihan mitigasi setiap awal tahun ajaran. Uniknya, sekolah ini tidak bergerak sendirian; mereka menggandeng 16 sekolah mitra strategis yang tersebar di Kabupaten Aceh Jaya dan Aceh Barat.
Ketua Panitia, Sulaiman, S.Pd., menegaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan agar siswa tidak hanya belajar teori di kelas. “Kami ingin siswa belajar langsung dari ahlinya. Ilmu kebencanaan bukan hafalan, tapi keterampilan bertahan hidup,” ujarnya.
Sinergi ini diperkuat oleh FK Tagana Provinsi Aceh. Ketua FK Tagana, Rizal Dinata, S.E., menyatakan komitmen tanpa batasnya. “Untuk pendidikan dan mitigasi, kami siap kapan pun dan di mana pun. Jangankan siang, malam pun jadi. Jangankan di laut, di gunung pun kami siap bergerak,” tegasnya dengan semangat yang membara. Tahun ini, MoU dengan Tagana direvisi untuk mempertajam spesifikasi teknis dalam kurikulum inovasi SANTANA.
Menghadapi Geografis dengan Kecerdasan Mitigasi. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Farida, S.Pd., menjelaskan bahwa letak sekolah yang berada di jalur rawan bencana menuntut kesiapan ekstra. Inilah yang melatarbelakangi lahirnya SANTANA. “Kami memadukan ilmu kesiapsiagaan, teknik evakuasi, hingga trauma healing pasca-bencana. Ini adalah paket lengkap perlindungan siswa,” jelas Farida.
Kehadiran BPBK Aceh Jaya menjadi pilar utama dalam draf kerja sama ini. Ismail, S.Pd., Kabid Kesiapsiagaan Bencana BPBK, yang selama ini rutin melatih simulasi pemadam kebakaran bersama unit Damkar Teunom, telah menyiapkan draf MoU yang komprehensif. Kepala BPBK, A.G. Suhadi, S.E., M.Si., pun telah memberikan lampu hijau (ACC) untuk agenda cerdas ini, yang dianggap sebagai langkah krusial sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Filosofi di Balik Kuah Beulangong. Bagi Ridwan, mitigasi bukan hanya soal bunyi sirine atau penunjuk arah jalur evakuasi. “Simpul kunci kesuksesan menekan risiko bencana adalah kesiapan mental dan kerja sama semua pihak,” ungkap sang kandidat doktor tersebut. Ia percaya bahwa setelah semua ikhtiar teknis dilakukan, kekuatan doa adalah benteng terakhir yang akan dipimpin langsung oleh Tgk. Rajudin (Pakcek) sebagai sepuh di Darun Nizham.
Sebagai bentuk kearifan lokal, acara penandatanganan ini akan ditutup dengan doa bersama dan jamuan khas: Kari Kuah Beulangong masakan Teunom. Tradisi ini melambangkan kebersamaan dan rasa syukur, sekaligus mempererat silaturahmi antarlembaga sebelum menjalankan ibadah puasa.
Pesan dari Ujung Desa untuk Dunia. Inovasi SANTANA dari SMP Darun Nizham mengirimkan pesan kuat kepada dunia pendidikan: bahwa sekolah di pelosok desa mampu memimpin perubahan besar jika dikelola dengan visi yang tajam. Mereka tidak hanya mewariskan ijazah, tetapi mewariskan budaya keselamatan kepada generasi emas Aceh.
Dari ujung desa Teunom, SMP Darun Nizham menyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk bersatu. Mitigasi bencana bukanlah tugas satu lembaga, melainkan tanggung jawab kolektif untuk memastikan anak cucu kita tumbuh di lingkungan yang aman dan tangguh bencana.