September 11, 2026

Mengguncang Dunia dari Bumi Pasai: Refleksi 800 Tahun Aceh Utara dan Resonansi Kebudayaan Versi Kesultanan Daya

0
8f30e8be-2dc4-4809-9784-9ba79b6f9070 - Copy

LHOKSUKON — Saat peradaban modern kerap kali membuat bangsa ini lupa akan akar kebesarannya, sebuah gema agung yang ditampilkan dari Bumi Tanah Rencong. Menjelang perhelatan monumental Piasan Pase 2026 memperingati 800 tahun Aceh Utara (6–13 September 2026), sebuah pesan mendalam mengalir dari para penjaga sanad adat dan tradisi Nusantara.

Bukan sekedar seremonial festival biasa, peringatan delapan abad ini dimaknai sebagai pemantik kesadaran kolektif bangsa. Penghormatan dan Warkat Tahniah (pesan keagungan) disampaikan secara resmi oleh Radja Negeri Daya Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam, DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah , bersama Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara, Dato’ Kiam Radja T G. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D .

Amanat sejarah tersebut disuarakan langsung oleh Wazir Katibul Muluk Kerajaan Negeri Daya, Dato’ Dr. (C) Ridwan, S.Pd.I., MA, M.Pd.

Mercusuar Bahari dan Diplomasi Peradaban

Dalam seruan kebangkitannya, Dato’ Dr. (C) Ridwan menekankan bahwa angka 800 tahun bukanlah sekadar deretan angka statistik atau usianya sebuah wilayah administrasi, melainkan jejak emas peradaban maritim yang pernah menghubungkan Nusantara dengan dunia.

Delapan abad Samudera Pasai adalah fondasi sejarah yang membentuk identitas bangsa. Dari tanah Pase inilah panji Islam, diplomasi peradaban, dan tradisi bahari menyatu dengan pelbagai kesultanan di Nusantara. Kami mendoakan semoga Aceh Utara terus bangkit, menjaga nilai adat, serta mengukuhkan syariat demi kesejahteraan rakyatnya,” tutu r Dato’ Dr. (C) Ridwan men yampaikan titah DYMM Sultan Saifullah dan Prof. Fekri Juliansyah.

Menerjemahkan Kejayaan Masa Lalu Menjadi Aksi Nyata

Perhelatan 7 hari 7 malam di Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Lhoksukon, menawarkan pendekatan unik: menghubungkan spritual masa lalu dengan tanggung jawab masa depan.

  1. Eksplorasi Spiritual dan Takzim Sejarah: Diawali ziarah ke makam pendiri peradaban, Sultan Malik Al-Shaleh dan Ratu Nahrasyiah. Sebuah simbolisasi pemimpin daerah yang menundukkan hati pada akar keteladanan moral.

  2. Gema Simfoni Budaya: Dentuman ritmis 800 Rapa’i Pase yang membahana bersama kehadiran Menteri Kebudayaan RI menjadi pesan tegas bahwa warisan tradisi takbenda Aceh siap menggetarkan panggung dunia.

  3. Transformasi Ekologis dan Sosial: Angka 800 kehidupan melalui penanaman 800 pohon, santunan 800 anak yatim, pembacaan Kitab Kuning, hingga Festival Kuah Kari Pasee di 27 kecamatan. Kejayaan sejarah tak berhenti di buku teks, melainkan diwujudkan sebagai kepedulian sosial yang menyejukkan.

Refleksi bagi Seluruh Pemangku Adat dan Anak Bangsa

Langkah visioner Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE, MM (Ayah Wa), yang menjadikan 800 tahun ini sebagai pijakan melompat ke masa depan, mendapat penghargaan dan garansi dukungan penuh dari para tetua kesultanan Nusantara.

Wazir Katibul Muluk Dato’ Dr. (C) Ridwan menutup warkat berita ini dengan pesan pembebas: semangat kebangkitan dari bumi Pasai harus menjadi cermin bagi seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. Bahwa merawat kebudayaan dan adat bukan berarti “menyembah abu” masa lalu, melainkan “menjaga nyala api” agar Indonesia tetap berdaulat, diperintahkan, dan melepaskan dengan kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *