September 11, 2026

Saat Para Raja Angkat Suara; Gelak Tawa dan Tangis Haru Menyatu di Pengukuhan KALAM PRABU Kerajaan Negeri Daya

0
WhatsApp Image 2026-09-10 at 17.00.28

ACEH JAYA — Suasana di Astaka Diraja Kerajaan Negeri Daya mendadak diliputi keheningan yang menggetarkan. Helaan napas berat dan isak tangis pecah pelan di antara jajaran tamu undangan. Nilai-nilai sejarah, adat, dan syariat yang sempat terlelap selama 700 tahun diterima seolah-olah pulang ke pelukan generasi muda.

Namun, perhelatan monumental yang digelar Panitia SMP Darun Nizham bersama lintas sektor ini bukan sekadar prosesi formal yang kaku. Acara Pengukuhan Inovasi KALAM PRABU ( Kearifan Lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya ), Penandatanganan MoU & Prasasti, serta Penganugerahan Tokoh Mitra Strategis Lintas Sektor ini menjelma menjadi panggung emosional yang siap membuat siapa saja tertawa menggelitik sekaligus meneteskan air mata penuh doa.

Air Mata Wazir dan Sentilan “Kakek-Nenek Masa Kini”

Momen haru membuncah tatkala Kepala SMP Darun Nizham yang juga Wazir Katibul Muluk Kerajaan Negeri Daya, Dato’ Dr. (C) Ridwan, S.Pd.I., MA, M.Pd., menyampaikan Segalanya. Kandidat doktor UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini tak sanggup membendung air mata saat mengenang Sultan Salatin Alaiddin Riayat Syah—sang pendiri Kerajaan Negeri Daya pada tahun 1480, jauh sebelum Kesultanan Aceh Darussalam berdiri.

Dengan suara bergetar dan air mata menetes, Dato’ Ridwan melontarkan dirinya pada fenomena Gen-Z yang sering kali asing dengan situs sejarahnya sendiri. Di tengah tangisnya, beliau menerima seloroh jujur ​​yang disambut tawa kecil nan riuh dari para hadirin.

“Betapa perih hati ini melihat Gen-Z lebih mengenal konten viral dibandingkan bangunan sejarah kita. Padahal pemilik peninggalan itu, para leluhur kita, jauh lebih mulia dari kakek-nenek kita hari ini! Para leluhur menanamkan syariat dan akhlak dengan darah dan doa, sementara kita terkadang masih sibuk mencari sinyal!” ungkap Dato’ Ridwan di selang isak tangisnya.

Beliau menyampaikan apresiasi mendalam kepada tamu agung, DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah (Raja Negeri Daya & Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam), Dato’ Kiam Radja TG. Prof.DR(HC) Fekri Juliansyah, Ph.D. (Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara), serta lima Raja Aceh Darussalam serta para pangeran dan permaisuri. Perwakilan Camat Jaya pun menyambut hangat langkah ini sebagai dorongan nyata agar generasi muda memiliki rasa memiliki terhadap akar budayanya.

Kelakar Singgasana: Kala Para Raja Mengaku Jadi Guru

Kekhusyukan acara berubah hangat dan penuh gelak tawa ketika para raja memberikan petuah. DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah menekankan pentingnya menjaga akhlak mulia dan beu meu adab . Namun, dengan kerendahan hati yang mengundang senyum hangat hadirin, sang Baginda berucap:

“Jangan tegang-tegang kali. Saya ini di singgasana memang Raja, tapi di kehidupan sehari-hari… saya ini juga pernah jadi seorang guru!”

Suasana makin meriah saat Dato’ Kiam Radja TG. Prof.DR(HC) Fekri Juliansyah, Ph.D. naik memberi dukungan lewat logat Melayu yang kental dan jenaka. Tak mau kalah, para raja lain ikut memberikan pengakuan jujur ​​yang menginspirasi:

YAM Teuku Amri (Kerajaan Negeri Kuala Batu): Dengan bangga mengaku bahwa dirinya adalah guru pelatihan pembibitan padi. “Jadi kalau para pendidik bisa menanam akhlak ke Gen-Z, saya bagian menanam padi untuk makan mereka!” kelakarnya, yang langsung disambut haru.

YAM Teuku Nasruddin (Kerajaan Negeri Tanah Nata): Menyampaikan kekuasaan wilayahnya hingga ke Singkil dan bersiap menggemakan KALAM PRABU ke sekolah-sekolah di wilayahnya agar nilai syariat, adat dan budaya terus hidup.

Mengukir Prasasti, Menyapa Leluhur dengan Air Mata

Setelah gelak tawa dan ramah tamah, prosesi dilanjutkan dengan penandatanganan Prasasti Pengukuhan KALAM PRABU serta penganugerahan penghargaan. Salah satu momen yang paling berkesan adalah penganugerahan gelar Wanita Terinspiratif Tahun 2026 kepada Pimpinan Yayasan Nurul Huda Ladang Baroe Panga, yang siap berkolaborasi menggelar lomba penutur sejarah bagi anak muda.

Acara ditutup dengan doa bersama, kenduri maulid, serta shalat Zhuhur berjamaah. Rombongan kemudian melangkah menuju makam sang pendiri kerajaan, Sultan Salatin Alaiddin Riayat Syah (Poteumeurehom).

Di pusara sang leluhur, ketenangan kembali merengkuh. Air mata yang tadinya terbias oleh tawa kini menetes murni sebagai bentuk penghayatan paling mendalam. Dalam sujud dan doa yang dipanjatkan di hadapan makam bersejarah tersebut, generasi hari ini berjanji untuk tidak melupakan akar, menjaga syariat, dan membawa nama harum adat dan budaya ke masa depan.

Gebrakan dari balik dinding SMP Darun Nizham bukan sekadar seremoni biasa. Ia adalah pemicu kesadaran baru dari Aceh Jaya yang kini siap memikat dan menginspirasi seluruh pelosok negeri!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *