Banda Aceh – Sebuah momentum bersejarah yang menggetarkan jiwa nasionalisme dan kecintaan pada budaya bangsa lahir dari ruang diskusi yang khidmat (25-07-2026). Rapat koordinasi terbatas guna mempersiapkan pengukuhan inovasi KALAM PRABU (Kearifan Lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya) sukses digelar melalui kolaborasi epik antara SMP Darun Nizham dan Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara. Pertemuan ini menjadi bukti nyata sinergi kuat antara dunia pendidikan modern dan pelestari sejarah dalam menjaga marwah peradaban Nusantara.
Hadir langsung dalam pertemuan ini, Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara, Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D. Suasana rapat seketika berubah magis saat diskusi mulai membedah akar sejarah dan kiprah gemilang Sultan Salatin. Dengan penuh semangat dan kefasihan yang luar biasa, Dato’ Fekri menguraikan koneksi silsilah ahlul bayt di bentangan Kerajaan Tanah Melayu Raya. Untaian sejarah ini menjadi pengingat berharga bagi generasi masa kini akan keagungan asal-usul bangsa.
Inspirasi pertemuan kian lengkap dengan kehadiran Datin Rina. Sosok wanita berjiwa besar ini menjadi jembatan hidup yang menghubungkan kemegahan kerajaan Tanah Melayu dengan dinamika generasi muda di era milenial. Melalui pemikirannya, nilai luhur masa lalu tidak lagi terasa kuno, melainkan bertransformasi menjadi kompas moral yang relevan bagi anak muda zaman sekarang.
Diskusi mengalir deras dan hangat, diibaratkan seperti kesibukan sebuah keluarga yang sedang menyiapkan pesta pernikahan untuk menyambut “raja sehari”. Namun, atmosfer kali ini jauh lebih spesial dan sakral, karena lembaga sedang matang-matangnya menyambut kehadiran para raja sungguhan dari 5 Kerajaan Aceh.

Fittri Suzanni, S.Pd.I., selaku operator Sarakata Kerajaan Negeri Daya, memegang kendali teknis dengan sangat rapi. Ia merinci persiapan satu per satu, mulai dari ketepatan jadwal (schedule) hingga jenis penghargaan yang akan dianugerahkan. Menariknya, detail jamuan pun tak luput dari pembahasan presisi. Rencana hidangan istimewa berupa Ikan Kereling (ikan jurung/besemah)—makanan para raja—menjadi sorotan utama. Tanpa terasa, rapat maraton ini berlangsung selama 4 jam penuh tanpa jeda. Segala hal dibahas tuntas, mulai dari kuliner lokal seperti ikan lele, ikan gabus, hingga kelezatan sambal khas Aceh.
Di balik suksesnya koordinasi ini, ada sosok Ridwan, S.Pd.I., M.A., M.Pd., Kepala SMP Darun Nizham sekaligus Kandidat Doktor Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Dalam momen ini, Ridwan memainkan dualisme posisi sentral yang luar biasa; sebagai pucuk pimpinan sekolah sekaligus mengemban amanah sebagai Wazir Katibul Muluk.
Dengan wewenang tersebut, Ridwan menyuarakan usulan prestisius berupa penganugerahan gelar Dato’ kepada seorang tokoh civitas akademika terkemuka, Prof. Dr. phil. H. Abdul Manan, S.Ag., M.Sc., M.A. Profesor yang dikenal luas sebagai “Prof Kenduri Aceh” ini merupakan akademisi dengan karya tulis yang memiliki sitasi terbanyak di UIN Ar-Raniry. Saat ini, beliau bahkan sedang merampungkan masterpiecenya: 9 buku yang mengupas tuntas setiap jenis kenduri di Aceh, mulai dari Kenduri Mulod (Maulid) hingga Kenduri Rabu Abeh (Tolak Bala). Wacana penganugerahan gelar ini telah mendapatkan lampu hijau (ACC) dari Ketua Lembaga Dzurriyat dan siap dibawa ke rapat internal Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam bersama DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah .
Ridwan menegaskan bahwa usulan ini murni karena objektivitas rasa hormat, bukan karena Prof. Abdul Manan adalah Promotor 1 disertasinya. Putra terbaik Manggeng ini dinilai sangat layak menerima kehormatan tersebut atas ketekunannya bertahun-tahun menimba ilmu antropologi di Eropa (S2 di Belanda dan S3 di Jerman). Dedikasinya telah melahirkan karya besar “Kalender Anak Jamee” serta 174 artikel ilmiah yang menembus berbagai jurnal nasional dan internasional bereputasi indeks Scopus.
Melalui inovasi KALAM PRABU yang diselaraskan dengan restu para keturunan Raja Sultan Nusantara, dunia pendidikan Aceh sedang mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: bahwa masa depan generasi milenial yang gemilang hanya bisa dicapai jika mereka berpijak pada akhlak mulia, pendidikan religius, dan kearifan lokal yang mengakar kuat.