Aceh Jaya – Sebuah terobosan monumental yang memadukan keagungan sejarah, hukum adat, dan spiritualitas Islam resmi lahir dari rahim bumi Serambi Mekah. Inovasi sistemik yang diberi nama KALAM PRABU (Kearifan Lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya) kini resmi mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kemenkumham RI dengan Nomor Pencatatan 01257949 per tanggal 2 Juni 2026.
Lahirnya KALAM PRABU menjadi angin segar sekaligus kado terindah bagi dunia pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, sekolah tidak lagi sekadar tempat transfer ilmu, melainkan bertransformasi menjadi “rumah baru” bagi pelestarian warisan budaya dunia yang hidup dan dipraktikkan siswa sehari-hari.
Titah Raja di Larut Malam
Gagasan visioner ini lahir dari sebuah diskusi mendalam hingga larut malam. Suasana penuh haru menyelimuti momen ketika jam dinding menunjukkan tepat pukul 00.00 WIB. DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah (Raja Negeri Daya & Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam) dikenal Radja Saifullah bersama Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D. (Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara) dikenal Dato’ Guru memimpin langsung perumusan konsep ini.
“Semoga ini menjadi awal administrasi publik mewariskan Syariat dan Budaya kepada generasi muda. Menghubungkan Kerajaan dengan generasi penerus bangsa sedekat mata putih dan mata hitam,” ucap Yangmulia Raja Saifullah dengan penuh khidmat.
Mendengar titah tersebut, Ridwan, S.Pd.I., M.A., M.Pd., seorang Kepala Sekolah sekaligus Kandidat Doktor Pendidikan Pascasarjana UIN Ar-Raniry, tidak mampu membendung air matanya. Ridwan mengaku takjub mendengarkan tuturan sejarah lisan yang fasih dari sang Raja.
“Berdiskusi dengan Radja dan Dato’ Guru rasanya seperti membaca 1.000 judul buku sejarah dunia. Perjuangan kami terjaga hingga jam 5 pagi ini belum sebutir pasir lautan dibanding perjuangan para leluhur,” ungkap Ridwan penuh haru saat melaporkan legalitas HKI tersebut via telepon.
Dua Pilar Karakter: Melawan Bullying dengan Adat
KALAM PRABU mengintegrasikan dua pilar utama kurikulum berbasis adat untuk membentuk generasi yang Carong (Cerdas), Meudab (Berakhlak), dan Meubudaya (Berbudaya): Pilar Pertama: Manajemen Emosi & Spiritual (Kenduri & Peusijuek). Sekolah menggunakan adat Peusijuek untuk mengelola psikologis siswa. Dalam fase suka (seperti penyambutan siswa baru), Peusijuek menanamkan sifat tawadhu (rendah hati). Dalam fase duka atau konflik, diterapkan Peusijuek Keugrahan (pemulihan trauma) dan Peusijuek Damai. Pendekatan restoratif ini terbukti ampuh digunakan leluhur, semoga sekarang menjadi gerakan anti-perundungan (anti-bullying) karena menyelesaikan gesekan antar-pelajar secara damai tanpa menyisakan trauma emosional.
Pilar Kedua: Kepemimpinan & Sosial (Peumeunap & Seumuleung). Mengadopsi filosofi luhur Po Teumeureuhom dari Kerajaan Daya. Tradisi Peumeunap melatih karakter sabar, tertib, dan budaya antre. Sementara Seumuleung (prosesi menyuapi raja) mentransformasikan mental siswa menjadi pemimpin yang mengayomi, amanah, dan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat di atas kepentingan pribadi.
SMP Darun Nizham Jadi Pionir
Kemitraan unik ini bukan sekadar indah di atas kertas. SMP Darun Nizham telah ditetapkan sebagai sekolah pertama yang menjadi pilot project penerapan KALAM PRABU mulai Semester 1 Tahun Pelajaran 2026/2027.
Ridwan menegaskan pihak sekolah telah bersiap dengan “seribu daya, gaya, dan cara”. Pada 10 September 2026 mendatang, sebuah acara pengukuhan akbar KALAM PRABU akan digelar dengan menghadirkan 5 Raja dari 9 Raja Negeri Aceh Darussalam. Tak hanya itu, pada bulan Agustus, sekolah akan menggelar Festival Anak Penutur Sejarah serta memproduksi film dokumenter sejarah yang dibimbing langsung oleh Dato’ Guru Fekri Juliansyah.
Inovasi KALAM PRABU membuktikan bahwa kemajuan zaman digital tidak harus menggerus identitas bangsa. Dari Aceh Jaya, sebuah pesan kuat dikirimkan untuk seluruh rahim pendidikan Indonesia: bahwa menjaga kedaulatan bangsa dimulai dengan menjaga erat Meuhukom, Meuadat, dan Meubudaya. KALAM PRABU akan menjadi project percontohan dan dapat diterapkan di berbagai wilayah Kerajaan/Kesultanan di Nusantara. Tutup Dato’ Guru penuh harap.