BANDA ACEH — Progres lampu merah semakin menyala di dunia pendidikan Provinsi Aceh. Sebuah gerakan perubahan yang lahir dari ketulusan nurani demi kelestarian budaya dan identitas bangsa kini resmi digulirkan. Ridwan, S. Pd. I., MA., M. Pd, seorang tokoh akademisi sekaligus praktisi pendidikan, baru saja merampungkan diskusi mendalam yang mencerahkan bersama para penjaga pilar adat Nusantara. Dari ruang diskusi yang sarat akan emosi dan visi masa depan tersebut, lahirlah sebuah mahakarya sistemik bertajuk Inovasi KALAM PRABU (Kearifan Lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya).
Inovasi yang terbilang paling spektakuler di tahun 2026 ini merupakan hasil kolaborasi erat antara Ridwan dengan DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah (Raja Negeri Daya & Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam) dan Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph. D. (Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara). Hebatnya, terobosan ini tidak sekadar menjadi wacana, melainkan telah resmi memperoleh perlindungan hukum melalui Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Momentum historis hari ini, 1 Juni 2026, yang bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, menjadi jembatan emas bagi Ridwan, S. Pd. I., MA., M. Pd untuk memperluas cakrawala sistemik kurikulum berbasis kearifan lokal ini. Mengambil spirit dari pidato legendaris Ir. Soekarno pada sidang BPUPKI tahun 1945, KALAM PRABU membuktikan bahwa nilai-nilai dasar negara dan syariat Islam di Aceh sejatinya hidup berdampingan secara harmonis.
Tidak hanya itu, tanggal 1 Juni yang juga diperingati secara global sebagai Hari Anak Internasional dan Hari Orang Tua Sedunia oleh PBB, diadopsi secara instingtif ke dalam struktur nilai inti KALAM PRABU. Integrasi ini melahirkan panduan operasional baru yang mempertemukan antara nasionalisme, perlindungan anak, dan bakti kepada orang tua dalam satu tarikan napas tradisi luhur Aceh.
Satu Jam yang Mengguncang Jiwa dan Meneteskan Air Mata
Bagi Ridwan, kesempatan berdiskusi langsung dengan para pemangku adat Nusantara adalah sebuah anugerah spiritual yang luar biasa. Ia mengumpamakan pengalaman tersebut dengan metafora yang mendalam.
“Satu jam bersama To’ Guru (Dato’ Fekri Juliansyah) bagai membaca 30 judul buku sejarah dan budaya dunia,” ungkap Ridwan dengan nada takjub.
Dato’ Fekri memang dikenal memiliki wawasan kosmopolitan yang sangat luas, serta rekam jejak sebagai aktor utama di berbagai film dokumenter bertajuk sejarah global. Namun, di balik kegemilangan itu, tersimpan kisah perjuangan yang sunyi dan penuh lara.
Ridwan mengaku haru dan tak sanggup membendung air mata ketika mendengar penuturan jujur tentang bagaimana sang tokoh jatuh bangun berjuang menyelamatkan cagar budaya. Tak jarang, ketulusan tersebut justru disambut dengan cibiran dan skeptisisme dari segelintir orang yang tidak paham.
“Kalau bukan kita yang peduli siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi?” tegas Sang Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara, memotivasi Ridwan. Pesan luhur yang paling membekas di hati Ridwan adalah tentang keikhlasan dalam berjuang: “Jangan khawatirkan dengan rezeki. Lakukan dengan ikhlas, rezeki silang akan datang sendiri min haisu la yahtasib—dari arah yang tidak kita duga. Yang penting terus berkarya, terus berusaha dari hal yang kecil-kecil dan dari apa yang bisa dilakukan. Ini adalah wujud terima kasih kita kepada para pejuang, bahwa negeri ini bukan kebetulan, tetapi dibangun dengan tetesan darah dan perjuangan para pendahulu.”
Kini, draf Memorandum of Understanding (MoU) kemitraan strategis ini dikabarkan telah rampung. Beberapa poin krusial hanya tinggal menunggu validasi akhir dari Tuanku Raja Saifullah. Dijadwalkan malam besok, prosesi finalisasi akan segera dituntaskan melalui sebuah konferensi terbatas.
Bukan Sekadar Kerja Sama di Atas Kertas
Keunikan utama dari KALAM PRABU terletak pada aspek eksekusinya. Kerja sama ini sama sekali bukan sekadar seremonial di atas kertas. Kemitraan ini dirancang dengan sangat matang melalui kolaborasi tiga pilar utama: pelaku pendidikan, budayawan, dan pihak kerajaan.
Sebagai kado terindah bagi generasi muda Aceh, inovasi kurikulum ini dipastikan akan mulai diterapkan secara perdana pada Semester 1 Tahun Pelajaran 2026/2027, dengan SMP Darun Nizham sebagai sekolah pelopor (pilot project).
Berikut adalah cetak biru resmi yang menjadi panduan operasional di lapangan:
PEDOMAN KALAM PRABU (Kearifan Lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya)
- Latar Belakang
Pedoman KALAM PRABU di wilayah Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, mengintegrasikan syariat Islam dengan kearifan lokal secara struktural. Instrumen utama pembentukan akhlak mulia di lingkungan sekolah diwujudkan melalui pelaksanaan kenduri sesuai kalender adat serta tradisi Peusijuek. Ritual ini bukan sekadar formalitas adat, melainkan media doa (shalawat dan harapan keselamatan), penanaman rasa syukur, serta manajemen emosi sosial bagi siswa dalam menghadapi fase suka (keberhasilan/awal baru) maupun duka (musibah/perpisahan).
- Kalender Pedoman Kegiatan Kenduri 2026
Berikut adalah matriks tahunan kegiatan kenduri untuk lingkungan pendidikan di wilayah Aceh sepanjang tahun 2026 Masehi (1447–1448 Hijriah), yang diselaraskan berdasarkan ketetapan Kalender Hijriah Indonesia Kementerian Agama RI:
| No | Bulan Masehi (2026) | Estimasi Tanggal Hijriah | Ragam Kenduri Adat Aceh | Fokus Penguatan Karakter KALAM PRABU di Sekolah |
| 1 | Januari | Rajab 1447 H | Kanduri Apam (Bulan Reubah) | Kedermawanan & Kemandirian: Siswa belajar berbagi, bergotong-royong memasak kue tradisi (apam), dan membagikannya ke lingkungan sekitar. |
| 2 | Februari | Sya’ban 1447 H | Kanduri Beureuat (Nisfu Sya’ban) | Spiritualitas & Refleksi Diri: Melatih anak membiasakan ibadah malam, doa bersama, silaturahmi, dan membersihkan hati menyambut Ramadan. |
| 3 | Maret | Ramadan – Syawal 1447 H | Kanduri Tamat Daruih & Kanduri Uroe Raya | Kecintaan Al-Qur’an & Fitrah: Merayakan khatam Al-Qur’an (tadarus sekolah) dan menyantuni anak yatim/piatu menjelang Hari Raya Idul Fitri. |
| 4 | April | Syawal – Zulkaidah 1447 H | Kanduri Peureuleng / Kanduri Boh Meu | Rasa Syukur & Menjaga Kelestarian Alam: Edukasi terhadap hasil bumi/panen serta mempererat silaturahmi pasca-lebaran antarguru, siswa, dan wali murid. |
| 5 | Mei | Zulkaidah – Zulhijjah 1447 H | • Peusijuek Pelepasan Lulusan • Kanduri Uroe Raya Haji (Qurban) • Peumeunap & Seumuleng Raja |
• Rasa Syukur & Doa Restu (Suka): Prosesi peusijuek bagi siswa kelas akhir (Kelas 6/9/12) yang lulus agar ilmunya berkah. • Pengorbanan & Keikhlasan: Keterlibatan siswa dalam kepanitiaan kurban sekolah dan distribusi daging. • Nilai Sejarah: Integrasi ritual Peumeunap dan Seumuleung Raja untuk mentransformasikan nilai sejarah Kerajaan Daya (Adat Po Teumeureuhom) menjadi karakter nyata siswa. |
| 6 | Juni | Zulhijjah 1447 H – Muharram 1448 H | • Kanduri Asyura (Tahun Baru Islam) • Merumok Raja Teunom |
Kepedulian Sosial & Sejarah: Memasak Bubur Asura bersama di sekolah, menyantuni anak yatim, serta merefleksikan esensi hijrahnya Rasulullah SAW. |
| 7 | Juli | Muharram – Safar 1448 H | • Peusijuek Siswa Baru • Kanduri Tulak Bala (Rabu Abeh) |
• Adaptasi & Keselamatan: Peusijuek massal bagi siswa baru pada hari pertama sekolah untuk melembutkan hati anak memohon keberkahan belajar. • Sabar & Ikhtiar Spiritual: Pembacaan doa keselamatan dan edukasi kesehatan sebagai wujud menjaga diri (Hifdzun Nafs). |
| 8 | Agustus | Safar – Rabiul Awal 1448 H | Kanduri Geudeu-Geudeu / Adat | Ketangkasan & Sportivitas Berbudaya: Pengenalan seni tradisi, permainan rakyat pasca-panen, serta persiapan menyambut bulan kelahiran Rasulullah. |
| 9 | September | Rabiul Awal 1448 H | Kanduri Maulod (Awal) | Cinta Rasul (Mahabbah): Pekan kreasi Islam (perlombaan zikir maulid/meudikee) dan membawa hidangan khas (idang meulapeh) untuk dimakan bersama. |
| 10 | Oktober | Rabiul Akhir 1448 H | Kanduri Maulod (Teungoh) | Persaudaraan (Ukhuwah): Memperluas silaturahmi antar-madrasah/sekolah terdekat melalui pertukaran undangan zikir dan makan bersama. |
| 11 | November | Jumadil Awal 1448 H | Kanduri Maulod (Akhir) | Konsistensi & Akhlak Mulia: Penutupan rangkaian bulan maulid dengan refleksi keteladanan sifat-sifat Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. |
| 12 | Desember | Jumadil Akhir 1448 H | Kanduri Khanduri Blang / Kebudayaan | Etika Kerja & Cinta Tanah Air: Penanaman nilai menghargai profesi petani/nelayan, kelestarian lingkungan, dan doa akhir tahun. |
📌 Catatan Panduan Implementasi di Sekolah:
- Fleksibilitas Penanggalan: Pelaksanaan kenduri wajib merujuk secara berkala pada kalender resmi Kemenag RI.
- Prinsip Edukatif: Kegiatan ini bukan sekadar acara makan bersama, melainkan media transfer pengetahuan sejarah, syariat, dan penguatan Adat Po Teumeureuhom (tata krama luhur Aceh).
- Inklusif & Berkelanjutan: Mengutamakan prinsip kesederhanaan, keterlibatan aktif siswa, dan dipastikan tidak memberatkan wali murid secara ekonomi.
III. Regulasi Khusus: Peusijuek Kebencanaan & Sosial (Suka & Duka Kondisional)
Di luar penanggalan rutin, pihak sekolah diwajibkan melaksanakan Peusijuek Kondisional sebagai bentuk respons psikologis dan penanaman akhlak mulia:
- Peusijuek Kebencanaan / Suasana Duka (Peusijuek Keugrahan): Dilaksanakan apabila ada warga sekolah yang mengalami trauma mendalam, kecelakaan berat, atau musibah kebakaran.
- Fokus Karakter: Sabar dan Ikhtiar. Bertujuan memulihkan semangat spiritual anak (peuglah taufik) agar jiwanya kembali tenang setelah ditimpa kemalangan.
- Peusijuek Damai (Peusijuek Meulangga): Dilaksanakan jika terjadi perselisihan atau perkelahian fisik antarsiswa di sekolah. Dilakukan tepat setelah proses konseling atau peradilan adat sekolah selesai.
- Fokus Karakter: Pemaaf & Cinta Damai. Sebagai simbolis sakral bahwa dendam telah diredam dan tali persaudaraan telah dipulihkan sepenuhnya.
Dengan hadirnya KALAM PRABU, Aceh tidak hanya merawat ingatan masa lalunya, tetapi sedang membangun benteng karakter yang kokoh agar generasi emas masa depan Nusantara tetap tumbuh dengan akar budaya yang kuat dan akhlak yang mulia.