ACEH JAYA – Di sebuah sudut pesisir barat Sumatera, tepatnya di Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Teunom, sebuah harmoni tak biasa sedang tercipta. Di balik dinding SMP Swasta Darun Nizham, sebuah sekolah yayasan yang memadukan kurikulum nasional dengan kedalaman pola pesantren (dayah), lahir sebuah gerakan yang kini menjadi buah bibir karena keunikannya. Bukan tentang robotika mutakhir atau laboratorium digital yang dingin, melainkan sebuah inovasi yang menyentuh relung paling dalam dari jiwa manusia: SIPUTRI (Silaturrahmi dan Peusijuek Santri).
Inovasi ini lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari sebuah keprihatinan yang nyata. Data menunjukkan bahwa transisi dari rumah menuju asrama adalah fase yang menyakitkan bagi banyak anak. Bayangkan, sekitar 65% santri baru pada tahun ajaran 2024/2025 terjebak dalam pusaran kecemasan (anxiety) sedang hingga tinggi. Mereka rindu rumah (homesick), kehilangan nafsu makan, hingga jatuh sakit secara psikosomatis. Sebanyak 12% santri bahkan nyaris menyerah dan memilih drop-out setiap tahunnya karena gagal beradaptasi.
Namun, di bawah kepemimpinan Ridwan, S.Pd.I., M.A., M.Pd., seorang Kepala Sekolah yang kini sedang menempuh studi Doktor di Pascasarjana UIN Ar-Raniry, sekolah ini menolak untuk diam. Mereka meluncurkan SIPUTRI—sebuah “amunisi inovasi” yang menggabungkan psikologi modern dengan kearifan lokal Aceh yang agung.

Peusijuek: Ketika Kearifan Lokal Menjadi Obat Jiwa
Aceh mengenal Peusijuek sebagai ritual tepung tawar untuk mendinginkan hati dan memohon berkah. Di Darun Nizham, tradisi ini tidak lagi sekadar seremonial. Ia diubah menjadi instrumen inovasi yang terstruktur.
“SIPUTRI adalah manifestasi dari jati kerja mencari berkah. Kami ingin menghapus sekat birokrasi antara guru, santri, dan orang tua. Kami melakukan ‘Diplomasi Langit’,” ujar Ridwan dengan mata berbinar.
Pemandangan paling mengharukan terjadi pada minggu kedua penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Jika di sekolah lain MPLS ditutup dengan baris-berbaris atau perlombaan, di Darun Nizham, suasana berubah menjadi lautan emosi. Orang tua dihadirkan, duduk bersimpuh bersama anak-anak mereka.
Dalam ritual Peusijuek Transisi, tangis pecah saat para Tengku (Tgk) pilihan memercikkan air mawar dan menaburkan padi sebagai simbol keberkahan. Isak tangis santri yang semula karena ketakutan akan perpisahan, perlahan berubah menjadi tangis haru karena merasa diterima dalam keluarga besar yang hangat. Ritual ini berfungsi sebagai validasi sosial—sebuah penegasan bahwa mereka tidak dibuang ke asrama, melainkan sedang didekap oleh kasih sayang yang lebih luas.
Menghancurkan Dinding Transaksional
Selama ini, hubungan sekolah dan orang tua seringkali bersifat transaksional. Orang tua hanya dipanggil saat anak bermasalah atau saat pembagian rapor. Survei internal menunjukkan 70% orang tua merasa seperti “menitipkan barang” di sekolah.

SIPUTRI menghancurkan pola itu. Melalui agenda Peusijuek Tasyakur dan Musibah, sekolah hadir secara aktif dalam dinamika hidup santri. Jika ada santri yang baru selesai khitan (Sunah Rasul) atau ada guru yang pulang dari Umrah, syukuran dilakukan bersama. Sebaliknya, jika ada santri yang mengalami musibah seperti cedera fisik atau duka keluarga, sekolah melakukan Peusijuek Duka.
Ini adalah bentuk trauma healing yang jenius. Alih-alih hanya memberikan obat medis, sekolah memberikan sentuhan spiritual. Hasilnya luar biasa: indeks kepuasan orang tua melonjak hingga di atas 90%. Mereka tidak lagi merasa asing; mereka merasa menjadi bagian dari satu tubuh bernama Darun Nizham.
Inovasi yang Menginspirasi: Dari Teunom untuk Dunia
Dampak SIPUTRI melampaui sekadar angka retensi santri yang kini ditargetkan mencapai 95%. Inovasi ini telah menjadi bukti bahwa pendidikan karakter di era modern tidak boleh meninggalkan akar budayanya. Ridwan menyebutkan bahwa karya inovatif ini begitu fantastis sehingga pihaknya sedang dalam proses mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kemenkumham.
Kisah dari Teunom ini memberikan pesan kuat bagi dunia pendidikan: bahwa secanggih apa pun fasilitas sekolah, yang paling dicari oleh seorang pelajar adalah rasa “di rumah”. SIPUTRI telah membuktikan bahwa kekuatan doa, silaturrahmi yang tulus, dan penghormatan terhadap tradisi adalah kunci utama dalam membangun ekosistem pendidikan yang tangguh.
Di tengah gempuran digitalisasi yang seringkali menjauhkan batin manusia, SMP Swasta Darun Nizham justru memilih untuk mendekat. Mereka membuktikan bahwa di ujung pena para pendidik di Jaya, ada amunisi kasih sayang yang mampu mengubah air mata menjadi kekuatan, dan keraguan menjadi keyakinan akan masa depan yang penuh berkah.
Kini, setiap kali matahari terbenam di pesisir Teunom, tidak ada lagi isak tangis ketakutan di asrama. Yang terdengar adalah lantunan doa dan gelak tawa kekeluargaan—sebuah simfoni indah yang lahir dari rahim inovasi bernama SIPUTRI.