Aceh Jaya – Suasana di halaman Yayasan Darun Nizham hari itu terasa berbeda. Semilir angin seolah membawa pesan ganda: sebuah perpisahan yang menyesakkan dada, sekaligus kobaran semangat baru yang membuncah. Di bawah langit yang cerah, keluarga besar Darun Nizham berkumpul untuk merayakan satu titik balik bersejarah—penguatan kemitraan internal melalui program SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana) yang dibarengi dengan momen purna tugas dua sosok legendaris, Sulaiman, S.Pd. dan Farida, S.Pd.
SANTANA: Lebih dari Sekadar Program, Sebuah Nafas Inovasi
Program Sekolah Aman Tangguh Bencana (SANTANA) kini bukan lagi sekadar kurikulum tambahan di Darun Nizham, melainkan identitas baru yang memperkuat fondasi tim internal sekolah. Kemitraan ini lahir dari kesadaran bahwa pendidikan tidak hanya soal transfer ilmu di papan tulis, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang aman, sigap, dan tangguh menghadapi tantangan zaman, termasuk kesiapsiagaan bencana.
Kemitraan ini menjadi simbol bahwa Darun Nizham menolak untuk jalan di tempat. “Kita tidak boleh berhenti berinovasi. SANTANA adalah komitmen kita untuk melindungi masa depan generasi bangsa dengan kesiapan mental dan fisik yang mumpuni,” ujar Muhammad Nasir, S. Pd. koordinator tim yang menggantikan Sulaiman, S. Pd. dalam sambutannya.
Langkah ini menandai transformasi besar-besaran dalam struktur internal sekolah. Guru-guru kini tak hanya berperan sebagai pendidik, tapi juga sebagai pelopor keselamatan dan agen perubahan yang inovatif. Semangat “bangkit dan terus berinvasi” (dalam makna positif menembus batas-batas kemajuan) menjadi bahan bakar utama yang membakar semangat tim internal yang baru.
Tangis Haru di Balik Purna Tugas: Selamat Jalan Sang Figur
Namun, di tengah semangat inovasi tersebut, terselip rasa kehilangan yang mendalam. Hari itu merupakan momentum purna tugas bagi dua guru senior yang telah menjadi nyawa bagi setiap kegiatan di Darun Nizham: Bapak Sulaiman, S.Pd. dan Ibu Farida, S.Pd.
Selama puluhan tahun, keduanya bukan sekadar pengajar, melainkan figur orang tua, mentor, dan inspirator bagi ribuan siswa. Bapak Sulaiman dikenal dengan ketegasannya yang mendidik, sementara Ibu Farida adalah sosok lembut yang selalu menjadi penyejuk di tengah kepenatan aktivitas sekolah. Keduanya adalah arsitek di balik layar yang memastikan setiap program sekolah, termasuk embrio SANTANA, dapat berjalan hingga saat ini.
Kepala Sekolah Darun Nizham, Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., tak mampu menyembunyikan getar suaranya. Dengan mata yang berkaca-kaca, beliau menyampaikan permohonan maaf yang tulus dan ucapan terima kasih yang tak terhingga.
“Atas nama institusi dan secara pribadi, saya memohon maaf jika selama kepemimpinan saya ada hal-hal yang kurang berkenan. Namun, yang jauh lebih penting adalah rasa terima kasih saya yang luar biasa atas pengabdian tanpa batas dari Bapak Sulaiman dan Ibu Farida,” ucap Ridwan dengan nada penuh haru.
Beliau menambahkan bahwa dedikasi kedua guru senior tersebut adalah pondasi kokoh yang memungkinkan Darun Nizham berdiri tegak hingga hari ini. “Bapak Ibu adalah pilar. Meskipun secara administratif tugas telah berakhir, namun jejak kebaikan dan ilmu yang tanam akan terus mengalir di setiap sudut sekolah ini,” lanjutnya yang disambut tepuk tangan riuh sekaligus isak tangis dari para guru lainnya.
Menyambut Darah Muda: Melanjutkan Estafet Perjuangan
Setiap akhir adalah awal yang baru. Dalam momen yang sama, Ridwan secara resmi menyambut kehadiran para guru baru yang akan bergabung dalam barisan tim internal SANTANA. Baginya, ini adalah momen penyerahan tongkat estafet yang krusial.
“Selamat bergabung kepada rekan-rekan guru baru. Bapak Ibu datang di saat yang tepat, saat semangat SANTANA sedang berkobar. Saya berharap Bapak Ibu tidak hanya mampu menyambung estafet yang ditinggalkan oleh Bapak Sulaiman dan Ibu Farida, tetapi juga membawa lari tongkat ini lebih kencang, lebih baik, dan lebih inovatif ke depannya,” tegas Ridwan.
Kehadiran guru-guru muda ini diharapkan membawa perspektif baru, teknologi baru, dan energi yang lebih segar dalam mengimplementasikan program-program ketangguhan bencana. Mereka ditantang untuk mampu menyerap kearifan dari para senior dan menggabungkannya dengan kecepatan inovasi masa kini.
Inovasi yang Tak Pernah Padam
Acara yang berlangsung penuh emosional ini ditutup dengan prosesi yang sarat akan kekeluargaan. Meskipun sosok Sulaiman dan Farida akan dirindukan di ruang-ruang kelas, semangat yang mereka tanamkan telah menyatu ke dalam visi SANTANA.
Darun Nizham kini berdiri dengan wajah baru—sebuah institusi yang menghargai sejarah dan pengabdian masa lalu, namun tetap berani menatap masa depan dengan inovasi yang tak kenal henti. Kemitraan SANTANA menjadi bukti bahwa sekolah ini siap bertransformasi menjadi pusat pendidikan yang aman, tangguh, dan selalu relevan bagi perkembangan zaman. Hari itu, di Darun Nizham, sebuah kisah tentang ketulusan berakhir dengan indah, dan sebuah perjalanan tentang inovasi baru saja dimulai.