Teunom – Menjelang bulan suci Ramadhan, aroma rempah Kuah Beulangong yang mengepul di ujung desa Kecamatan Teunom bukan sekadar hidangan tradisi jelang Meugang (04-02-2026). Ia menjadi simbol “diplomasi meja makan” yang menyatukan FK Tagana Provinsi Aceh, Badan Penanggulangan Bencana Kabupatten (BPBK) Aceh Jaya, dan Balai Penyuluh Keluarga Berencana (BPKB) Teunom dalam satu visi mitigasi kebencanaan menjaga keselamatan generasi masa depan.
Di pesisir Barat Aceh, suara ombak Samudera Hindia seringkali membawa memori mendalam tentang kekuatan alam, sebuah gerakan kemanusiaan yang elegan sedang tumbuh. Bukan sekadar rencana simulasi evakuasi biasa, program SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana) SMP Darun Nizham kini berevolusi menjadi sebuah “perisai kemanusiaan” melalui sinergi lintas sektor yang menyentuh hati.
Mitigasi yang Elegan: Bukan Hanya Fisik, Tapi Mental. Kehadiran BPKB Aceh Jaya dalam kemitraan ini membawa dimensi baru yang menginspirasi dalam dunia mitigasi. Koordinator Balai, Nurbeja Ritonga, S.Pd., menyebut keterlibatan mereka sebagai “Kemitraan Mitigasi yang Elegan”.
“Kami tidak hanya bicara tentang jalur evakuasi. Fokus kami adalah persiapan mental—sebelum, saat, dan sesudah bencana. Kita harus membangun ketangguhan dari dalam keluarga dan jiwa siswa,” ujar Nurbeja dengan penuh keyakinan.
Senada dengan itu, Safran Rusmar, S.I.Kom., penyuluh dari balai tersebut, memandang kerja sama ini sebagai langkah strategis yang visioner. “Ini bukan tentang hari ini berencana. Ini adalah cara kita mempersiapkan generasi emas yang tidak akan tumbang oleh keadaan, generasi yang tangguh menghadapi tantangan alam di masa depan,” ungkapnya.
Sinergi Tanpa Batas: Dari Gunung hingga Samudera. Di bawah komando Ridwan, S.Pd.I., M.A., M.Pd., seorang kandidat doktor yang visioner, SMP Darun Nizham membuktikan bahwa sekolah di pelosok desa bisa menjadi mercusuar inovasi nasional. Dukungan penuh dari Kepala BPBK Aceh Jaya, A.G. Suhadi, S.E., M.Si., dan semangat membara Ketua FK Tagana Aceh, Rizal Dinata, S.E., mengukuhkan bahwa keselamatan siswa adalah harga mati.
“Untuk pendidikan dan mitigasi, kami siap kapan pun. Siang atau malam, di laut maupun di gunung,” tegas Rizal Dinata. Komitmen ini bukan sekadar kata-kata, melainkan janji yang telah diuji selama tiga tahun konsistensi pelatihan di sekolah tersebut.
Filosofi Doa dan Kuah Beulangong. Yang membuat SANTANA di SMP Darun Nizham begitu istimewa adalah cara mereka membumikan teknis kebencanaan dengan kearifan lokal. Setelah simulasi pemadam kebakaran dan teknik penyelamatan dilakukan, kekuatan doa tetap menjadi benteng terakhir yang dipimpin oleh sesepuh sekolah, Tgk. Rajudin (Pakcek).
Sulaiman, S. Pd. Selaku Ketua Panitia Pelaksana menyatakan Acara penandatanganan MoU ini ditutup dengan kehangatan kari Kuah Beulangong khas Teunom. “Di balik suapan nasi dan kuah kari yang lezat, terselip pesan mendalam: bahwa mitigasi bencana adalah tanggung jawab kolektif yang harus dijalani dengan rasa syukur dan kebersamaan di akhir pekan mendatang”.
Dari ujung desa Teunom, pesan ini bergema kuat ke seluruh penjuru negeri. Bahwa untuk membangun bangsa yang tangguh, kita tidak hanya butuh sirine peringatan dini, tapi juga butuh hati yang menyatu, mental yang kuat, dan diplomasi kemanusiaan yang hangat.
Ismail, S. Pd. Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana menyatakan Samudera Hindia pernah menuliskan sejarah duka yang tak terlupakan, sebuah perlawanan terhadap rasa takut sedang dikumandangkan. Bukan dengan senjata, melainkan melalui SANTANA SMP Darun Nizham, para pejuang pendidikan membuktikan bahwa jarak dari kota dan ancaman bencana bukanlah alasan untuk menyerah pada nasib.
Inovasi ini adalah sebuah “Pesan dari Ujung Desa untuk Dunia”: Bahwa di balik rimbun kelapa pesisir Teunom, sedang ditempa generasi yang tidak akan menyerah dari bencana, melainkan menghadapinya dengan ilmu, iman, dan ketangguhan mental.
Sinergi Tanpa Sekat: Perisai dari Tiga Penjuru. Kemitraan ini bukan sekadar tanda tangan di atas kertas formalitas. Ini adalah kolaborasi “tiga penjuru” yang elegan antara BPBK Aceh Jaya, FK Tagana Provinsi Aceh, dan BPKB.
Keterlibatan BPKB menjadi kejutan yang menginspirasi, bahwa mereka hadir untuk membangun benteng yang selama ini sering terlupakan: Benteng Mental. Menyentuh bagian mitigasi yang elegan. Jika fisik dilatih oleh Tagana dan BPBK, kami fokus pada kesiapan mental. Kemitraan ini adalah investasi jangka panjang. “Ini adalah strategi menjemput masa depan. Kita sedang melahirkan generasi yang ‘pantang pulang sebelum padam’, generasi yang tangguh secara intelektual dan kokoh secara psikologis.” tegas Ridwan.
Ada alasan mengapa di balik gerakan ini, memilih momen menjelang Ramadhan dan tradisi Kuah Beulangong sebagai puncak acara. Baginya, mitigasi adalah tentang persatuan.
Kuah Beulangong bukan sekadar masakan; ia adalah simbol gotong royong Aceh. Di atas kuali besar yang mendidih, semua perbedaan sektor—baik itu kebencanaan, sosial, maupun pendidikan—melebur menjadi satu kekuatan.
Tagana yang siap bergerak di gunung maupun laut, siang maupun malam. BPBK yang sigap dengan peralatan dan teknis evakuasi. Sekolah yang menjadi wadah ilmu pengetahuan. Semuanya disatukan oleh satu rasa: Tanggung jawab menjaga nyawa anak cucu.
Pantang Menyerah pada Keadaan. Meskipun sekolah ini berada di jalur rawan, Farida, S.Pd. (Waka Humas) menegaskan bahwa ketakutan telah digantikan oleh kesiapsiagaan. Dengan dukungan doa dari sesepuh, mereka memadukan teknik evakuasi modern dengan kekuatan spiritual.
Inilah inspirasi dari Teunom: Jika sebuah sekolah di pelosok desa mampu menggerakkan lintas sektor secara masif dan elegan, maka tidak ada alasan bagi sekolah lain di Indonesia untuk diam. SANTANA bukan hanya tentang bertahan hidup, tapi tentang cara hidup yang terhormat dengan kesiapsiagaan penuh. SANTANA telah membuktikan bahwa mitigasi adalah diplomasi cinta—cinta kepada sesama, cinta kepada generasi, dan cinta kepada tanah air yang rawan bencana.