ACEH JAYA – Suasana di ruang pelatihan ekspor impor Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (DISKOPERINDAG) Aceh Jaya hari ini dipenuhi energi yang menggetarkan. Bukan suara ombak yang biasa terdengar di pesisir, melainkan dentuman semangat dan optimisme membahana dari puluhan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) lokal.
Memasuki hari keenam, pelatihan ini mencapai puncaknya, menandai era baru bagi IKM yang secara tegas menolak mentalitas “menunggu bola.”
Strategi “Elegan” Jemput Pasar Dunia, Paradigma lama telah ditinggalkan. IKM Aceh Jaya tidak lagi sekadar bermimpi, mereka mulai merajut mimpi nyata menembus pasar global, membangkitkan kembali kejayaan sejarah maritim indatu yang pernah berjaya hingga ke Penang, Malaysia.
Sesi hari keenam menjadi magnet berkat kehadiran Bapak Faisal, perwakilan ARC Unsyiah yang kenyang pengalaman ekspor tembus Asia dan Eropa. Faisal hadir dengan pemaparan yang digambarkan peserta sebagai “sangat elegan” dan to the point.
Ia menolak presentasi formal yang rumit. Sebaliknya, ia langsung mengajak peserta praktik mencari buyer (pembeli) mancanegara menggunakan portal swasta ternama dan portal resmi Kementerian Perdagangan RI.
“Era menunggu bola sudah lewat. Sekarang, kita yang proaktif menjemput pasar dunia di ujung jari kita,” tegas Faisal, disambut anggukan antusias puluhan peserta.
Napak Tilas Sejarah: Penang Kini Belanja ke Aceh Jaya, Kabar gembira mengenai dukungan Pemerintah Aceh untuk membuka kembali jalur ekspor langsung Aceh ke Penang menjadi katalisator semangat baru.
Bagi Aceh Jaya, ini bukan sekadar rute perdagangan. Ini adalah napak tilas sejarah. Air mata haru mengiringi ucapan salah satu peserta: “Indatu kami dulu belanja baju lebaran ke Penang. Hari ini, kita balikkan ceritanya. Mereka yang akan belanja produk unggulan Aceh Jaya!”
Inisiatif ini disambut baik oleh “SIRAJA” (Solidaritas Industri Aceh Jaya), sebuah konsorsium produk lokal yang siap berkolaborasi penuh semangat untuk mewujudkan visi ini.
Amunisi Produk Lokal Siap Go Global 2026, Target ekspor global 2026 bukanlah isapan jempol belaka. Beragam “amunisi” produk unggulan Aceh Jaya telah siap unjuk gigi di kontainer ekspor, menunjukkan kekayaan dan inovasi lokal: Kuliner Legendaris: Kopi Robusta Lamno, Kopi Portugis, Roti Mata Biru, VCO, dan kelapa gonseng (sanger). Produk Inovatif: Arang briket ramah lingkungan, minyak nilam (produk turunan sabun cuci dan kosmetik). Jasa & Kerajinan: Ribuan kerajinan rotan untuk suvenir, paket jasa tur, dan akomodasi elegan dari CEO PT. Jaya Tour Travel Aceh, Dasreil.
Antusiasme ini menular hingga ke jajaran panitia. Ibu Linda Desiati, S. KM., perwakilan DISKOPERINDAG Aceh Jaya, mengaku terharu melihat semangat juang peserta. “Semangat mereka adalah bahan bakar kami. Kami siap memfasilitasi IKM untuk tumbuh,” janjinya.
Hari keenam pelatihan ini bukan akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan besar. Aceh Jaya kini memiliki peta jalan yang jelas, didukung pemerintah, kolaborasi solid, dan semangat membara para IKM-nya. Mimpi melihat label “Made in Aceh Jaya” di rak-rak toko Eropa dan Asia kini terasa semakin dekat.
-Ridwan dan Redaksi angkasanew.com