Aceh Besar, – Suasana khidmat bercampur semarak memenuhi setiap sudut Sekolah Dasar Negeri (SDN) Neusok Teubalui pada Selasa pagi (11-11-2025). Di bawah naungan langit Aceh yang cerah, sebuah peristiwa ganda yang unik terajut. Pelantikan komite sekolah yang visioner berpadu dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang sarat makna. Lebih dari sekadar seremoni, hari itu menjadi manifestasi nyata dari kolaborasi antara pendidikan formal dan kearifan lokal yang religius, menawarkan secercah harapan bagi mutu pendidikan di Aceh Besar.
Acara yang berlangsung tepat pada 20 Jumadil Awal 1447 H ini berhasil menciptakan narasi bahwa pendidikan di Aceh bukan hanya soal angka di rapor, melainkan soal pembangunan karakter dan penguatan komunitas.
Ketika Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kabupaten Aceh Besar, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc., menabuh genderang kemitraan di puncak acara formal mengambil alih mimbar. Dengan penuh wibawa, ia memimpin prosesi pelantikan Komite Sekolah SDN Neusok Teubalui Periode 2025-2028. Ini adalah momen krusial yang menandai babak baru dalam tata kelola sekolah tersebut.
Prof. Mustanir, dalam sambutannya, tak hanya melontarkan kata-kata protokoler. Ia menekankan filosofi mendalam di balik keberadaan komite. “Komite sekolah harus menjadi jembatan penghubung antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat,” tegasnya. Pesan ini bukan sekadar retorika; ini adalah panggilan aksi bagi komite baru untuk menjadi mitra strategis, terutama dalam “mendukung program-program pendidikan yang telah diselaraskan dengan kearifan lokal.”
Di Aceh nilai-nilai adat dan agama berurat akar kuat, sinergi antara lembaga pendidikan dan masyarakat adalah keharusan. Pelantikan ini menegaskan komitmen MPD Aceh Besar untuk memastikan bahwa sekolah tidak menjadi menara gading yang terisolasi dari realitas sosio-kulturalnya.
Sesua yang membuat hari itu unik adalah dari kemitraan menuju keteladanan. Semarak Maulid Nabi SAW transisi mulus dari suasana formal pelantikan ke atmosfer spiritual peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Seolah-olah, setelah menguatkan struktur kepemimpinan, seluruh warga sekolah beralih untuk mengisi jiwa mereka dengan keteladanan Rasulullah.
Lantunan shalawat menggema di aula sekolah, menggetarkan hati para hadirin. Acara diisi dengan ceramah agama yang inspiratif, mengingatkan semua yang hadir, guru, orang tua, dan tokoh masyarakat tentang pentingnya meneladani akhlak mulia Nabi SAW.
Kolaborasi kegiatan ini melampaui sekat birokrasi dan administrasi. Ia merangkum esensi pendidikan di Aceh. Membentuk manusia yang cerdas secara akademik, dan kokoh secara spiritual dan moral.
“Kegiatan ini sebagai salah satu bentuk ikhtiar warga sekolah dalam memperkuat ukhwah, dan transfer nilai, serta penguatan kelembagaan Komite Sekolah secara bersama-sama,” ungkap Kepala SDN Neusok Teubalui, Siti Halimah, S.Pd.I., MA. Kandidat Doktor Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Visi seorang kandidat doktor yang memimpin sekolah dasar ini terlihat jelas holistik dan terikat pada nilai-nilai lokal.
Momen ini menjadi lebih lengkap dengan kehadiran berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) pendidikan di Aceh Besar. Dua anggota MPD Aceh Besar turut hadir, Drs. Hamdani Latif dan Dr. Silahuddin, M.Ag., menunjukkan dukungan penuh lembaga tersebut.
Tak ketinggalan, pengawas PAI (Pendidikan Agama Islam) Aceh Besar, perwakilan dosen Serambi Mekkah Aceh, tokoh masyarakat setempat, hingga tim AGPAI (Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia) yang merupakan bagian dari kelas kerja sama S3 PAI Pascasarjana UIN Ar-Raniry, semua berkumpul dalam satu forum.
Kehadiran mozaik elemen masyarakat ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap SDN Neusok Teubalui bersifat kolektif. Semua pihak merasa memiliki tanggung jawab dalam melahirkan generasi yang berkualitas, berkarakter, dan religius di Kabupaten Aceh Besar.
Kolaborasi pelantikan komite dan maulid ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan bagi SDN Neusok Teubalui. Bukan sekadar janji di atas kertas, tetapi sebuah ikrar bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya responsif terhadap tuntutan zaman modern, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai Islami dan kearifan lokal Aceh.