Aceh Jaya – Di bawah naungan pohon cemara yang melambai di pesisir Pantai Lueng Gayo, aroma rempah khas Aceh menyeruak, menembus batas indra (07-02-2026). Bukan sekadar jamuan menjelang ritual Meugang Ramadhan, uap panas dari kuali besar “Kuah Beulangong” itu menjadi saksi lahirnya sebuah gerakan besar. Di sini, di ujung Barat Aceh, tradisi kuliner warisan leluhur bertemu dengan visi modernitas dalam sebuah balutan inovasi bernama SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana).
Akhir pekan yang seharusnya menjadi hari libur kantor, justru berubah menjadi panggung diplomasi kemanusiaan. Ridwan, S.Pd.I., M.A., M.Pd., Kepala SMP Darun Nizham sekaligus kandidat doktor Pascasarjana UIN Ar-Raniry, yang menjadi simpul kunci di balik simfoni lintas sektor ini. Dengan semangat “Guru Penggerak”, ia meramu tujuh aset pendidikan menjadi sebuah formula pertahanan sekolah yang tidak hanya tangguh secara fisik, tapi juga kokoh secara sosial.
Kobaran Semangat di Pinggir Krueng Teunom. Suasana diskusi mendadak hangat saat Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Aceh Jaya, A.G. Suhadi, S.E., M.Si., berdiri dengan berapi-api. Di hadapan para tamu undangan, ia tidak hanya bicara angka, tapi bicara nyawa. Dari teknik mitigasi struktural hingga strategi jangka panjang mengatasi luapan banjir musiman Krueng Teunom, Suhadi membedah tantangan kebencanaan dengan presisi.
“SMP Darun Nizham adalah titik awal. Kita tidak bisa hanya menunggu bencana datang. Kita harus menciptakan peluang di tengah tantangan,” tegasnya dengan nada tinggi yang memacu adrenalin para peserta. Baginya, mitigasi bukan sekadar simulasi, melainkan budaya yang harus mendarah daging.
Sentakan Nurani: Bencana Sosial di Depan Mata. Hiruk-pukuk teknis mitigasi fisik itu mendadak sunyi senyap saat Rizal Dinata, S.E., Ketua FK Tagana Provinsi Aceh, mengambil pengeras suara. Sambil terduduk tenang, ia melempar sebuah refleksi yang menyentak kesadaran.
“Kepala BPBK sudah bicara tentang alam yang mengamuk. Tapi, mari kita lihat bencana yang lebih sunyi namun mematikan: bencana sosial,” ujar Rizal. Ia menyoroti bagaimana dinding rumah dan pagar sekolah kini seringkali gagal membendung degradasi moral. “Mulut mungkin terkunci, tapi hati nurani kita meronta melihat mirisnya perilaku generasi era modern. Jika guru dan orang tua tidak lagi menjadi ‘sayap pelindung’ atau pengayom, maka kita sedang menunggu ledakan bencana sosial yang lebih dahsyat dari tsunami.”
Ridwan, sang inovator, mengangguk getir. Ia mengakui betapa kepekaan sosial generasi muda kian memudar di balik layar gawai. Namun, ia menegaskan tekadnya dengan pepatah Aceh yang menghujam: “Semangat Bek Kendo, Beuthat Talo Ka Lam Jaroe” (Semangat jangan kendor, meski kalah sudah di tangan).
“Meskipun hari ini bayang-bayang kriminalisasi guru menghantui dan terasa seperti gajah yang kakinya terbelenggu rantai—terbatas gerak karena satu cincin aturan—kami para pendidik akan tetap berdiri tegak. Selagi bayi masih menangis (kehidupan terus berjalan), kami tidak akan berhenti mendidik,” tegas Ridwan penuh haru.
Melacak Jejak Raja Teunom: Mitigasi adalah Warisan Genetik. Uniknya, acara ini tidak hanya dihadiri praktisi bencana, tapi juga pewaris darah biru Kerajaan Teunom. Teuku Marhaidi, generasi ke-V keturunan Raja Teunom, hadir membawa narasi sejarah yang megah. Ia menceritakan bagaimana Raja Teunom pada tahun 1875 bersumpah tidak akan takluk pada Belanda.
“Kakek kami bukan hanya pejuang perang, tapi ahli strategi bencana. Saat kapal Inggris Nissero terdampar karena tsunami dahsyat akibat letusan Krakatau tahun 1883, Raja Teunom tidak tinggal diam. Beliau menggunakan momentum itu sebagai media diplomasi untuk membebaskan blokade pelabuhan dagang. Itu adalah bukti kesiapan mental menghadapi bencana alam sekaligus bencana politik (perang),” kenang Teuku Marhaidi.
Ia mengingatkan bahwa dulu, leluhur Teunom menjaga alam dengan kearifan lokal yang ketat: mengambil telur penyu secukupnya, melarang racun Tuba di sungai, hingga membatasi penebangan hutan. “Hari ini, tambang liar dan pembalakan hutan membuat kita sesak napas oleh asap. Kita harus kembali ke akar,” tambahnya.
Remaja Berencana dan Sinergi Tanpa Batas. Sisi lain dari mitigasi juga dipaparkan oleh Nurbeja Ritonga, S.Pd., Koordinator Balai Penyuluh Keluarga Berencana (BPKB). Lewat program Sekolah Bersama Ayah (Sebaya) dan Genre (Generasi Berencana), ia menekankan bahwa remaja yang memiliki rencana hidup adalah benteng utama pencegahan bencana sosial. Meski tidak secara langsung membendung air banjir, namun karakter yang kuat akan membendung “banjir” kenakalan remaja.
Harmoni ini semakin lengkap dengan kehadiran Adiyanto, S.E., Keuchik muda inspiratif dari Desa Lueng Gayo, yang selama tiga tahun terakhir menjadi mitra strategis SMP Darun Nizham. Doa bersama yang dipimpin oleh Tgk. Ismail, Imam Mesjid Lueng Gayo, seolah mengunci komitmen bahwa usaha manusia ini harus diberkati oleh Yang Maha Kuasa.
MoU dan Penghargaan: Lebih dari Sekadar Kertas. Puncak acara ditandai dengan penandatanganan revisi MoU antara SMP Darun Nizham dengan Tagana Provinsi dan BPBK Aceh Jaya. Bukan sekadar seremoni, revisi ini mempertajam kurikulum SANTANA agar lebih spesifik secara teknis.
Penghargaan penuh haru diberikan kepada Ismail, S.Pd., M.Pd. (Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBK) dan Unit Damkar Teunom atas dedikasi mereka melatih siswa selama tiga tahun terakhir. Namun, momen paling menyentuh adalah saat paket adat Meugang diserahkan kepada keluarga Raja Teunom.
Dra. Zulmaidar, guru senior yang telah purna tugas namun tetap dianggap keluarga, menyerahkan bingkisan kepada Teuku Marhaidi (Generasi V). Sementara Farida, S.Pd., Wakil Kepala Bidang Humas yang juga menjelang purna tugas, menyerahkan bingkisan kepada si kecil Teuku Muhammad Farzanata Al-Fatih (Generasi VII). Bingkisan juga diserhkan kepada semua dewan guru dan karyawan sekolah sebagai simbol bersiap menyambut ibadah bulan suci Ramadhan.
“Dulu, Raja Teunom menyembelih kerbau untuk rakyatnya. Setiap warga yang membeli daging Meugang sebenarnya sedang bersedekah karena sistem ‘merepe’. Sekarang, Meugang seringkali menjadi ajang bisnis juragan kerbau yang membuat harga melambung, mengikis kepedulian sosial,” ungkap Teuku Marhaidi dengan nada reflektif.
Sesi Kuah Beulangong yang Menyatukan di bawah komando Sulaiman, S.Pd., ketua panitia yang bekerja tanpa banyak bicara, hidangan Kuah Beulangong akhirnya siap dinikmati. Di sela-sela deburan ombak Pantai Lueng Gayo, para pejabat, akademisi, aktivis, hingga keluarga raja duduk bersila menikmati hidangan yang sama.
“Acara ini sukses besar. Bukan karena makanannya yang lezat, tapi karena makna di baliknya. Ini adalah kerja sama tim lintas sektor yang nyata,” pungkas Sulaiman sambil menatap kepulan uap rempah yang menyatu dengan udara laut.
Hari itu, SMP Darun Nizham bukan hanya sebuah institusi pendidikan. Ia telah menjelma menjadi sebuah kapal besar bernama SANTANA, yang siap berlayar mengarungi samudra zaman, membentengi generasi dari bencana alam, dan yang paling utama: menyelamatkan kemanusiaan dari bencana sosial.