Teunom – Di Pantai Barat Aceh, deburan ombak Samudera Hindia kerap membawa memori tentang kedahsyatan alam, sebuah narasi besar sedang ditulis ulang. Bukan dengan tinta biasa, melainkan dengan aroma rempah Kuah Beulangong yang mengepul, jabat tangan antar-generasi, dan semangat yang menyatukan sejarah masa lalu dengan visi masa depan.
Menjelang bulan suci Ramadhan (06-02-2026), Kecamatan Teunom tidak hanya bersiap menyambut tradisi Meugang. SMP Darun Nizham, sebuah sekolah yang kini menjadi mercusuar inovasi nasional, telah lahir sebuah pergerakan yang menggetarkan hati: SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana). Kali ini SANTANA bukan sekadar simulasi evakuasi teknis; ia telah berevolusi menjadi “Diplomasi Litas Sektor dan Zaman” yang menyatukan ahli kebencanaan, penyuluh keluarga, hingga pewaris (keluarga) Kerajaan Teunom.
Suara dari Masa Lalu: Ketangguhan Raja Teunom. Suasana haru menyelimuti ruangan saat Teuku Marhaidi, generasi ke-V dari keluarga Raja Teunom, berdiri di depan pintu menyambut Kepala SMP Darun Nizham Ridwan, S. Pd. I., M. A., M. Pd. yang mengundang khusus Teuku Marhaidi. Dalam diskusi singkat di meja teras tempat syuting film dokumenter Raja Teunom beberapa waktu lalu, membawa kembali ingatan kolektif yang hampir terkubur tentang tahun 1883—tahun di mana dunia berguncang akibat letusan Krakatau yang memicu tsunami dahsyat.
“Kala itu, air laut naik dan dunia mencekam. Kapal Inggris, Nissero, terdampar di pesisir kami,” kenang Teuku Marhaidi dengan nada suara yang dalam namun berwibawa.
Sejarah mencatat bahwa Raja Teunom Teuku Imum Muda bukanlah sosok yang menyerah pada bencana. Di tengah blokade Belanda dan ancaman alam, beliau justru menunjukkan mentalitas baja. Alih-alih surut, perdagangan jalur laut tetap dipertahankan. Bahkan, insiden Kapal Nissero diubah menjadi alat diplomasi yang elegan untuk memecah blokade Belanda.
“Kakek buyut kami mengajarkan bahwa bencana bukanlah akhir, melainkan ujian ketangguhan mental dan kecerdasan strategi. Jika saat itu Raja Teunom tidak gentar, maka generasi hari ini tidak boleh punya alasan untuk takut menghadapi tantangan alam,” tegas Marhaidi, penuh haru.
Melengkapi narasi tersebut, Teuku Putra, generasi ke-VI, menambahkan dimensi yang sangat relevan dengan isu lingkungan modern. Ia menceritakan bagaimana leluhur Teunom menjaga keseimbangan alam melalui hukum adat yang sangat maju pada masanya.
“Dulu, orang tua kita mencari telur penyu tidak dengan keserakahan. Mereka mengambil sebagian untuk konsumsi, dan menyisakan sebagian lagi di dalam pasir agar menetas. Mereka tahu, jika penyu hilang, keseimbangan laut akan goyah,” jelas Teuku Putra.
Kearifan ini juga merambah ke hutan. Penggunaan gergaji untuk menebang pohon dilakukan dengan aturan ketat; tidak ada pembalakan liar yang membuat hutan gundul atau memicu kebakaran hebat seperti yang sering kita saksikan di era modern. Inilah mitigasi bencana yang sebenarnya: mencegahnya sebelum terjadi melalui harmoni dengan alam.
Sinergi Lintas Sektor: Perisai dari Tiga Penjuru. Gerakan SANTANA di SMP Darun Nizham ini menjadi spektakuler karena keberhasilannya menyatukan berbagai elemen dalam satu visi. Di bawah komando Ridwan, seorang kandidat doktor yang visioner, sekolah ini membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk melahirkan inovasi kelas dunia.
Kemitraan ini melibatkan FK Tagana Provinsi Aceh, Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Aceh Jaya, dan Balai Penyuluh Keluarga Berencana (BPKB) Teunom.
Ismail, S.Pd., Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana, memberikan pernyataan yang menyentuh hati: “Samudera Hindia pernah menuliskan sejarah duka yang tak terlupakan bagi kita. Hari ini, melalui SANTANA, kita sedang mengumandangkan perlawanan terhadap rasa takut. Kita tidak menggunakan senjata, melainkan menggunakan ilmu dan kesiapsiagaan.”
Kehadiran BPKB Aceh Jaya dalam kemitraan ini pun membawa warna baru yang disebut sebagai “Mitigasi yang Elegan”. Nurbeja Ritonga, S.Pd., Koordinator Balai, menegaskan bahwa fokus mereka adalah membangun benteng yang selama ini sering terlupakan: Benteng Mental.
“Kami tidak hanya bicara tentang jalur evakuasi. Fokus kami adalah persiapan mental—sebelum, saat, dan sesudah bencana. Kita harus membangun ketangguhan dari dalam keluarga dan jiwa siswa,” ujar Nurbeja dengan penuh keyakinan.
Senada dengan itu, Safran Rusmar, S.I.Kom., memandang kerja sama ini sebagai langkah strategis untuk mempersiapkan “Generasi Emas” yang tidak akan tumbang oleh keadaan. Jika fisik dilatih oleh Tagana dan BPBK, maka mental ditempa oleh para penyuluh keluarga.
Konservasi di Pantai Nissero: Misi keselematan dan penekanan minim resiko untuk Masa Depan. Kehadiran pihak Konservasi Penyu Aroen Meubanja menambah dimensi haru dalam acara akhir pekan ini. Mereka yang selama ini eksis di garis depan penyelamatan lingkungan, melaporkan sebuah pencapaian luar biasa: telah merilis sebanyak 9.842 ekor tukik jenis belimbing dan penyu lekang di Pantai Nissero.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan simbol keberlangsungan hidup. Pantai yang dulu menjadi saksi bisu terdamparnya kapal Nissero dan amukan tsunami, kini menjadi rahim bagi ribuan nyawa baru yang akan menjaga ekosistem laut Aceh.
Filosofi Doa dan Kehangatan Kuah Beulangong. Puncak acara ditandai dengan penandatanganan MoU yang dibalut dalam tradisi kearifan lokal yang kental. Setelah simulasi pemadaman kebakaran dan teknik penyelamatan yang intens dilakukan oleh personel Tagana dan BPBK, suasana akan berubah menjadi hening dan khidmat Tgk. Rajudin (Pakcek) memimpin doa.
Bagi masyarakat Teunom, doa adalah benteng terakhir. Mitigasi sekuat apa pun tanpa penyerahan diri kepada Sang Pencipta akan terasa hampa. Kekuatan spiritual inilah yang menyatukan teknik evakuasi modern dengan keteguhan iman.
Sebagai penutup, seluruh peserta berkumpul mengelilingi kuali besar berisi Kuah Beulangong. Aroma rempah khas Aceh ini meresap ke dalam sanubari, menjadi simbol gotong royong yang tak lekang oleh zaman.
Sulaiman, S.Pd., Ketua Panitia Pelaksana, menyatakan bahwa acara ini adalah tentang kebersamaan. “Di balik suapan nasi dan kuah kari yang lezat, terselip pesan mendalam: bahwa mitigasi bencana adalah tanggung jawab kolektif yang harus dijalani dengan rasa syukur dan kebersamaan,” tuturnya.
Pesan dari Ujung Desa untuk Dunia
Dari sebuah sekolah desa Kecamatan Teunom, sebuah pesan kuat bergema ke seluruh penjuru negeri. Bahwa untuk membangun bangsa yang tangguh, kita tidak hanya membutuhkan sirine peringatan dini yang canggih, tetapi juga membutuhkan hati yang menyatu, mental yang kuat, dan penghormatan terhadap sejarah.
Rizal Dinata, S.E., Ketua FK Tagana Aceh, memberikan janji setianya: “Untuk pendidikan dan mitigasi, kami siap kapan pun. Siang atau malam, di laut maupun di gunung.” Semangat “pantang pulang sebelum padam” ini kini telah menular ke dalam jiwa para siswa SMP Darun Nizham.
Farida, S.Pd., Waka Humas sekolah, menambahkan bahwa kini rasa takut di mata para siswa telah berganti dengan binar kesiapsiagaan. Mereka tidak lagi memandang laut sebagai ancaman, melainkan sebagai anugerah yang harus dijaga, sebagaimana leluhur mereka, Raja Teunom, menjaganya ratusan tahun silam.
Inilah inspirasi dari Teunom: SANTANA bukan hanya tentang bertahan hidup, tapi tentang cara hidup yang terhormat dengan kesiapsiagaan penuh. Jika sebuah sekolah di desa mampu menggerakkan lintas sektor secara masif dan elegan, maka tidak ada alasan bagi sekolah lain di Indonesia untuk diam.
SANTANA telah membuktikan bahwa mitigasi adalah “Diplomasi Cinta”—cinta kepada sesama, cinta kepada generasi masa depan, dan cinta kepada tanah air yang, meskipun rawan bencana, tetap merupakan rumah yang paling indah untuk dijaga.