Teunom – Ketika sebagian orang menganggap alam murka, yang tersisa seringkali adalah keputusasaan. Namun, di tengah puing-puing dan lumpur sisa banjir besar yang melanda Aceh dan sebagian Sumatera beberapa waktu lalu, sebuah narasi baru tentang ketangguhan, inovasi pendidikan, dan semangat pantang menyerah justru muncul dari sekolah pedesaan Aceh Jaya. SMP Darun Nizham, sebuah institusi pendidikan berbasis pesantren di Kecamatan Teunom, kini menjadi mercusuar inspirasi bagi dunia pendidikan Aceh dan Indonesia, membuktikan bahwa bencana bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah sistem yang lebih kuat: “SANTANA” (Sekolah Aman Tanggap Bencana).
Bencana itu datang tanpa permisi, merenggut ketenangan civitas akademika SMP Darun Nizham tepat di momen sakral kegiatan khatam Qur’an di Pasi Raya. Air bah dari luapan sungai Teunom merangkak naik dengan cepat, memutus akses jalan lintas Teunom-Pasi Raya. Ironisnya, saat para santri khusyuk khataman Al-Qur’an, sebagian dari mereka harus rela menginap darurat, terisolasi oleh genangan air yang mengganas.
“Situasinya sangat cepat berubah. Kami di Pasi Raya terpaksa menahan diri semalam karena akses pulang ke asrama terputus total,” kenang Tgk. Jhon Agusni salah satu pengurus santri, menggambarkan betapa mendadak bencana tersebut menghentak rutinitas pesantren.
Keesokan harinya, berkat koordinasi apik dengan tim Damkar Teunom yang sigap, para santri berhasil dievakuasi kembali ke asrama. Namun, pemandangan pilu menyambut mereka. Lima ruang kelas vital terendam hingga ketinggian yang mengkhawatirkan, 50% asrama putri dan 90% asrama putra tergenang air. Kasur-kasur santri mengapung tak berdaya, mencerminkan betapa parahnya dampak bencana tersebut.
Dapur umum pesantren yang menjadi jantung logistik harian pun ikut tergenang. Tim sekolah bergerak cepat, membuka dapur umum darurat di balai depan dayah induk yang lebih tinggi, memastikan asupan logistik santri tetap terjamin di tengah ketidakpastian.
Implementasi SANTANA Dari Teori Menjadi Aksi, Apa yang membedakan SMP Darun Nizham dari institusi lain yang terdampak bencana serupa? Jawabannya terletak pada kesiapan sumber daya manusia mereka yang telah dilatih secara intensif. Program “SANTANA” bukan sekadar label, melainkan sebuah filosofi kesiapsiagaan yang telah tertanam dalam diri setiap santri dan tenaga pengajar.
Pasca surutnya banjir, tanpa menunggu instruksi panjang, para santri yang sebelumnya telah dibekali pelatihan oleh FK Tagana Provinsi Aceh dan BPBK Aceh Jaya, langsung bergerak cepat. Mereka berkoordinasi kembali dengan tim Damkar untuk membersihkan sisa-sisa lumpur di ruang kelas dan asrama.
Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan, S. Pd, I., MA., M. Pd., seorang kandidat doktor UIN Ar-Raniry yang dikenal visioner, menjelaskan kunci keberhasilan ini.
“Kami menyadari bahwa tinggal di daerah rawan bencana menuntut kami tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara kebencanaan. Pelatihan dari Tagana dan BPBK adalah investasi terbaik kami,” ujar Ridwan. “Saat bencana terjadi, sistem komando darurat SANTANA langsung aktif. Setiap orang tahu tugasnya masing-masing, meminimalisir kepanikan dan memaksimalkan respons.”
Kerugian fisik memang tak terhindarkan. Data inventaris mencatat kerusakan parah pada ruang Laboratorium IPA, beton cuci tangan yang jebol, pagar belakang yang roboh, serta puluhan set meja kursi holompic yang lapuk terendam air. Namun, semangat pendidikan tak pernah surut. Pembelajaran darurat segera dilaksanakan di lokasi pengungsian sementara.
Tantangan Logistik dan Semangat Ujian Akhir Semester, Momen paling krusial datang saat jadwal Ujian Akhir Semester (UAS) 1 tiba. Normalisasi pasca-banjir bukanlah proses instan. Wilayah tersebut menghadapi tantangan logistik akut: bahan baku makanan sulit didapat, pasokan minyak dan gas terbatas, serta aliran listrik yang sering padam.
Di bawah kepemimpinan Ridwan dan koordinasi yayasan, sekolah ini menunjukkan manajemen krisis yang luar biasa. Mereka berhasil bertahan, bangkit, dan memastikan UAS dapat berjalan sesuai jadwal, tanpa kekurangan satu hal pun.
“Ini adalah bukti nyata kolaborasi antara yayasan, dewan guru, santri, dan masyarakat. Kami menghadapi keterbatasan bahan baku, listrik, dan logistik, namun kami berhasil melangsungkan ujian dengan lancar,” tambah Ridwan penuh haru.
Apresiasi dan Masa Depan Pendidikan Aceh, Wakil Kepala Bidang Kurikulum, Sulaiman, S. Pd., yang menjadi salah satu motor penggerak di lapangan, menyampaikan apresiasi mendalam kepada semua pihak.
“Terima kasih tak terhingga kepada semua pihak yang telah menunjukkan kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja cerdas semenjak bencana, pasca bencana, hingga selesainya ujian. Semangat ini adalah bahan bakar kita untuk terus maju,” tutur Sulaiman.
Kisah SMP Darun Nizham adalah sebuah epik tentang resiliensi. Lebih dari sekadar membersihkan lumpur dan mengganti inventaris yang rusak, mereka telah menanamkan sebuah budaya baru dalam dunia pendidikan Indonesia: pentingnya kesiapsiagaan terstruktur dalam menghadapi krisis iklim dan bencana alam.
Model “SANTANA” layak menjadi percontohan nasional. Sekolah ini membuktikan bahwa dengan inovasi sistem, pelatihan yang tepat, dan semangat kolaborasi yang kuat, institusi pendidikan tidak hanya mampu bertahan dari terjangan air bah, tetapi juga keluar sebagai pemenang, menginspirasi Aceh dan Indonesia bahwa pendidikan tangguh bencana adalah sebuah keniscayaan.
Semoga kisah kebangkitan dari Teunom ini menjadi pengingat bahwa di setiap bencana, selalu ada peluang untuk membangun kembali sesuatu yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi masa depan.
-Redaksi angkasanew.com