Aceh Jaya, 12 Agustus 2025 – Jauh dari hiruk pikuk perayaan kemerdekaan di kota besar, sebuah perayaan HUT RI ke-80 yang unik dan menginspirasi tengah berlangsung di Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya. Di tengah hamparan sawah hijau dan pepohonan rindang, ratusan siswa SMP Darun Nizham, sekolah Islam berbasis industri yang dikenal dengan komitmennya pada pendidikan karakter dan pelestarian budaya, menyelenggarakan perlombaan sembilan cabang permainan tradisional. Acara yang berlangsung meriah dari tanggal 12 hingga 16 Agustus 2025 ini bukan hanya semarakkan peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi sebuah deklarasi nyata pelestarian warisan budaya Aceh bagi generasi muda.
Bayangkan: ratusan siswa, semuanya berbalut kain sarung dengan aneka warna dan motif, berlomba dengan semangat membara di bawah terik matahari. Suasana pedesaan yang biasanya tenang, mendadak berubah menjadi lautan riuh rendah tawa dan sorakan. Itulah gambaran semaraknya perayaan HUT RI di SMP Darun Nizham.
Sembilan cabang perlombaan permainan tradisional yang digelar, semuanya dipilih secara cermat untuk menguji berbagai aspek kemampuan siswa. Ada “Manok Tadu” (ayam bersembunyi), permainan ketangkasan menebak suara ayam berkokok yang terbungkus kain berlapis diperankan oleh peserta lomba membutuhkan konsentrasi dan ketepatan menebak suara lawan. Detik-detik menegangkan ketika peserta berkokok di balik kain tebal, disambut dengan sorak sorai dan tepuk tangan dari penonton. Kemudian ada Panci 1000 dan Panci Chok, dua permainan yang menguji kecepatan dan refleks, membutuhkan kecepatan dan ketepatan kaki berpadu dengan tim untuk meraih kemenangan.
Di arena lain, suara-suara riuh rendah mengiringi permainan Timbak Rusa, Rom Bruek, dan Patok Lele. Timbak Rusa, yang mengharuskan peserta untuk membidik lawan dengan tepat menggunakan bola tenis, menguji ketepatan dan akurasi. Rom Bruek, permainan melempar tempurung dengan bola tenis, menguji ketepatan, kecepatan, dan kerja sama tim. Sementara Patok Lele, permainan tradisional yang mengandalkan strategi dan kekuatan memainkan pelepah rumbiah, menghadirkan persaingan yang menegangkan di tengah tawa dan canda para peserta.
Tak kalah meriah, permainan Genteut Talo dan Genteut Kaye, dua permainan yang membutuhkan ketangkasan berjalan menggunakan media tempurung, kerja sama tim yang solid. Peserta harus saling bekerja sama, saling mendukung, dan mengandalkan strategi agar dapat meraih kemenangan. Permainan ini tak hanya mengasah keterampilan fisik, tetapi juga mengajarkan pentingnya kerjasama, komunikasi, dan kekompakan. Dan sebagai penutup, Tali Yeye, permainan yang menguji ketangkasan dalam melomat dan semangat juang, menunjukkan sportifitas tinggi para peserta yang bersaing dengan sehat dan penuh keceriaan.
Sulaiman, ketua panitia pelaksana, menjelaskan alasan di balik pemilihan permainan tradisional ini. “Kami ingin lebih dari sekadar merayakan kemerdekaan,” ujarnya dengan semangat. “Permainan tradisional ini dipilih bukan hanya sebagai hiburan semata, tetapi sebagai upaya nyata pelestarian budaya bagi generasi muda. Di era digital yang serba instan, permainan tradisional sering terpinggirkan. Padahal, di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur seperti sportivitas, kerja sama, dan keuletan yang perlu dijaga dan diwariskan.”
Para siswa pun terlihat antusias mengikuti setiap cabang lomba. Mereka tak hanya berlomba untuk meraih kemenangan, tetapi juga untuk merasakan sensasi bermain secara langsung, berinteraksi tanpa gawai, dan menikmati keceriaan permainan tradisional yang mungkin hanya pernah mereka lihat di buku atau video. Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Muhammad Revaldi. Dengan semangat membara, ia mendaftarkan diri di seluruh sembilan cabang lomba! “Saya siap untuk menjadi bagian dari tim yang menang!” serunya dengan penuh percaya diri. Keberanian dan semangatnya menjadi inspirasi bagi teman-teman sebayanya.
Kepala Sekolah Ridwan, menyatakan haru dan terinspirasi dengan ide kreatif panitia untuk mengadakan lomba permainan tradisional. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini,” ungkap Ridwan dengan mata berkaca-kaca. “Permainan tradisional ini memiliki banyak manfaat bagi generasi muda, termasuk pengembangan fisik, sosial, kognitif, dan pelestarian budaya. Permainan ini dapat meningkatkan kesehatan fisik, keterampilan motorik, dan kemampuan kerjasama. Selain itu, permainan tradisional juga memperkenalkan nilai-nilai budaya dan sejarah, memperkuat identitas nasional, serta mengurangi ketergantungan pada gawai. Ini sejalan dengan visi misi sekolah kami untuk mencetak generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia, dan cinta budaya bangsa.”
Orang tua siswa pun turut memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Mereka bersemangat menyaksikan anak-anak mereka berlomba dengan penuh semangat. Suasana penuh keakraban dan kebersamaan tercipta di lapangan sekolah. Bukan hanya siswa dan orang tua, guru-guru pun ikut serta meramaikan acara, membantu kelancaran jalannya perlombaan, dan memberikan semangat kepada para peserta.
Kesuksesan acara ini membuktikan bahwa perayaan HUT RI bisa dilakukan dengan cara yang unik, menarik, dan mendidik. SMP Darun Nizham telah memberikan contoh nyata bagaimana permainan tradisional dapat dihidupkan kembali dan menjadi media efektif untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. “Panci Chok dan Manok Tadu” ala SMP Darun Nizham ini bukan hanya sebuah perlombaan, tetapi juga sebuah gerakan pelestarian budaya yang patut diacungi jempol dan ditiru oleh sekolah-sekolah lain di Indonesia. Semoga semangat ini terus berkobar dan menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk mencintai dan melestarikan budaya bangsa. Selamat HUT RI ke-80! Jayalah Indonesia!