Teunom, Aceh Jaya – 03 Agustus 2025 – Uji tayang perdana film dokumenter “Sejarah Raja Teunom Teuku Imum Muda” di SMP Swasta Darun Nizham, Aceh Jaya, beberapa hari lalu, bukan hanya menyajikan kisah heroik Raja Teunom, tetapi juga memicu debat sengit yang berlanjut hingga ke kediaman generasi ke-5 Raja Teunom. Diskusi yang awalnya berlangsung hangat di aula sekolah, berlangsung seru mulai dari kiprah Raja Teunom sampai asal-muasal nama Teunom menjadi bahan diskusi. Perdebatan ini mengungkapkan fakta-fakta baru yang selama ini terpendam, mengarahkan pada penyempurnaan narasi sejarah Kerajaan Teunom yang selama ini hanya dikenal sebagian kecil publik.
Film yang awalnya ditujukan untuk menghidupkan kembali kisah heroik Raja Teunom dan penawan kapal dagang Inggris Nissero Questi (1883), malah memicu perdebatan yang mengungkap fakta-fakta baru, menantang narasi. Selama ini, Kerajaan Teunom kerap digambarkan sebagai wilayah kecil di pesisir pantai barat Aceh. Namun, Teuku Marhaidi (63), generasi ke-5 keturunan Raja Teunom dari Desa Rambung Payong, Kecamatan Teunom, mengatakan hal yang sebaliknya. Ia, bersama dengan generasi penerusnya – Teuku Darmaidi Saputra dan Teuku Rezhal Yusdart (generasi ke-6), serta Teuku Muhammad Farzanata Al-Fatih dan Teuku Muhammad Rafif Alfurqan (generasi ke-7) – menyatakan bahwa Kerajaan Teunom adalah sebuah kerajaan otonom di bawah Kesultanan Aceh Darussalam, bukan sekadar wilayah kecil. Mereka menekankan kedaulatan dan otoritas pemerintahannya sendiri yang meliputi wilayah Panga dan Teunom, berbatasan langsung dengan Arongan. Lebih jauh lagi, mereka mengungkapkan bukti hubungan dagang Kerajaan Teunom yang erat dengan berbagai negara asing sebelum konflik besar dengan Belanda, dengan lada sebagai komoditas ekspor utama.
“Kerajaan Teunom bukanlah wilayah kecil yang terisolasi,” tegas Teuku Darmaidi Saputra, suaranya bergetar dipenuhi semangat dan keyakinan. “Ini adalah entitas politik yang berdaulat, memiliki pemerintahan sendiri, dan memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan internasional pada masanya. Narasi yang selama ini beredar hanya sebagian kecil dari kekuatan dan pengaruh Kerajaan Teunom.”
Perdebatan semakin memanas ketika narasi seputar agresi militer Belanda dibahas. Keturunan Raja Teunom menyoroti kemenangan Aceh dalam Agresi Pertama Belanda tahun 1873 yang mengakibatkan tewasnya Jenderal Kohler. Mereka juga menekankan peran penting Teuku Imum Muda yang memimpin 800 pasukan dari Teunom untuk membantu Sultan Mahmud Syah di Banda Aceh. Meskipun Masjid Raya Baiturrahman dan Keraton jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Kedua (1874), Teuku Imum Muda dan sisa 300 pasukannya kembali ke Teunom dan melanjutkan perlawanan gerilya, mempertahankan wilayah kekuasaan mereka dengan gigih.
Namun, perdebatan mencapai puncaknya saat peristiwa penangkapan kapal Nissero Questi pada 8 November 1883 diulas kembali. Keturunan Raja Teunom mengungkapkan bahwa kapal yang awalnya dikira kapal perang Belanda tersebut sebenarnya adalah kapal dagang Inggris yang terdampar di perairan Panga. Teuku Imum Muda, dengan strategi yang jenius, menguasai kapal tersebut dan membawanya ke pedalaman Teunom. Ini bukan sekadar tindakan penyanderaan, tetapi strategi diplomasi yang cerdik untuk menekan Belanda melalui Inggris, memicu babak baru dalam konflik Aceh-Belanda.
“Penyanderaan Nissero Questi bukanlah tindakan impulsif,” jelas Teuku Darmaidi Saputa. “Ini adalah strategi diplomasi yang cerdik. Teuku Imum Muda menggunakan kapal tersebut sebagai alat negosiasi, menunjukkan kecerdasan strategis yang luar biasa.”
Fakta mengejutkan lainnya muncul: Teuku Raja Lam Ilie, menantu Raja Teunom yang menikahi Cut Adeh Bareng, berasal dari Indrapuri dan membawa 7 pucuk meriam ke Teunom dan Panga. Meriam-meriam ini berperan penting dalam mengamankan kedaulatan kedua wilayah tersebut. Ini menguatkan lagi status Kerajaan Teunom sebagai entitas politik yang kuat dan berdaulat, jauh melebihi gambaran yang selama ini beredar.
Untuk memperkuat narasi ini, Zulfitri Tiba (42), warga Desa Alue Piet, Kecamatan Panga, yang memiliki koleksi dokumen lengkap tentang kapal Nissero Questi, hadir sebagai narasumber. Ia menunjukkan foto asli kapal tersebut sebelum namanya diubah. “Ini bukti nyata,” kata Zulfitri, “Kami, warga Panga, bagian dari Kerajaan Teunom, merindukan replika kapal ini sebagai simbol semangat juang leluhur kami.”
Pernyataan Zulfitri semakin menguatkan tekad keturunan Raja Teunom untuk membangun replika keraton dan kapal Nissero Questi. Mereka berharap pemerintah daerah mendukung impian besar ini, menciptakan monumen sejarah yang menarik perhatian dunia.
Teuku Darmaidi Saputra menambahkan detail menarik lainnya. Ia menyebutkan Teungku Adam Glee Putoh sebagai salah satu prajurit Teuku Imum Muda yang bertugas menjaga awak kapal Nissero Questi. Ia juga menjelaskan sistem pemerintahan Aceh saat itu, di mana sebuah wilayah harus memiliki minimal tiga mukim untuk diakui sebagai UB (Ulee Balang) dan mendapatkan cap stempel dari Sultan Aceh. Kerajaan Teunom, menurutnya, memiliki empat mukim, termasuk Panga, yang dipimpin oleh Teungku Puteh Panga.
Muhammad Ali (40), warga Kuta Tuha, Kecamatan Panga, bahkan mengungkapkan bahwa kakeknya terlibat langsung dalam penangkapan kapal Nissero Questi dan proses penyanderaan di Weu Gajah Pucok Teunom.
Debat sengit ini menunjukkan betapa kayanya sejarah Aceh dan betapa pentingnya penyempuranaan narasi sejarah ditulis berdasarkan fakta yang akurat. SMP Swasta Darun Nizham, di bawah kepemimpinan Ridwan, bersama Studio Central, berkomitmen untuk terus mengungkap fakta sejarah dan menyempurnakan film dokumenter “Sejarah Raja Teunom Teuku Imum Muda,” memastikan narasi yang akurat dan inspiratif bagi generasi muda. Peristiwa ini bukan hanya sebuah perdebatan sejarah, tetapi juga sebuah gerakan untuk menulis sejarah Aceh dengan lebih akurat dan menginspirasi.